Siapa Nenek Moyang Lereng Timur Gunung Ciremai?

Peti kubur batu yang ada situs purbakala Cipari ini memiliki kesamaan dengan fungsi peti-peti kubur batu di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Masyarakat Sulawesi Utara menyebut peti kubur batu sebagai waruga, masyarakat Bondowoso menyebutnya pandusa, dan masyarakat Samosir menyebutnya tundrum baho.
Peti kubur batu yang ada situs purbakala Cipari ini memiliki kesamaan dengan fungsi peti-peti kubur batu di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Masyarakat Sulawesi Utara menyebut peti kubur batu sebagai waruga, masyarakat Bondowoso menyebutnya pandusa, dan masyarakat Samosir menyebutnya tundrum baho.
0 Komentar

Bentuk peti kubur batu yang terdapat di kawasan kaki Gunung Ciremai umumnya berbentuk empat persegi panjang, terbuat dari susunan pecahan papan-papan batu (batu sirap) yang ditambang dari alam, dalam hal ini bentuk pipih dari papan batu tersebut memang sudah terbentuk di lokasi sumber bahannya. Papan-papan batu tersebut disusun sedemikian rupa tanpa menggunakan batu penyangga.

“Berdasarkan pengamatan lapangan terhadap kubur peti batu yang ditemukan di kawasan Kabupaten Kuningan, tampak konsep tentang orientasi atau arah hadap diterapkan. Hampir semua temuan kubur peti batu yang terdapat di kawasan ini mengarah ke puncak tertinggi yaitu Gunung Ciremai,” tulis Lutfi Yondri.

Menurutnya, hanya dua lokasi temuan kubur peti yang tidak mengarah ke Gunung Ciremai, yaitu kubur peti batu yang terdapat di situs Pesawahan dan Cibuntu. Masing-masing kubur peti batu ini terletak dengan orientasi utara-selatan dan barat-timur, dengan orientasi ke arah Gunung Dulang dan Gunung Cibebek.

Baca Juga:Pendatang dari Kutai Bikin Kerajaan Galuh Purba di Lereng Gunung Slamet?Masa Sulit Orang-Orang Cirebon Jadi Kuli Belanda

“Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan di kawasan kaki Gunung Ciremai khususnya di lokasi temuan tinggalan peti kubur batu yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon, dapat ditarik beberapa simpulan terutama yang berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan dan budaya megalitik di kawasan itu di masa lalu,” tulisnya.

Lebih lanjut, Lutfi Yondri, dari jumlah dan persebaran temuan tinggalan megalitik yang cukup luas di kawasan ini, dimasa lalu dapat diperkirakan bahwa budaya megalitik di kawasan ini tumbuh cukup subur. (*)

0 Komentar