Mengungkap Sungai Kriyan, Sosok Buaya Putih

f21d1736 02be 46a2 b708 cbaa3a988df4 large16x9 ZOO7AMZOO frame 893
0 Komentar

Tepat di sebelah Sungai Kriyan, Kota Cirebon berdiri kokoh sebuah bangunan bersejarah yang sudah berusia lebih dari 300 tahun. Bangunan tersebut yaitu Lawang Sanga yang dibangun pada tahun 1677 masehi.

Berdasarkan Naskah Negara Kertabumi, Lawang Sanga yang terletak di Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk dibangun dalam rangka persiapan infrastruktur Gotrasawala yang dilaksanakan oleh Pangeran Wangsakerta pada masa Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya.

Lawang Sanga berarti pintu sembilan. Karena terdapat sembilan pintu yang terdiri dari satu pintu di depan, satu pintu ditengah, empat pintu di samping, dan tiga pintu di belakang.

Baca Juga:Iluminasi dalam Naskah CirebonApa Kabar Sunda Wiwitan?

Fungsi Lawang Sanga yakni sebagai tempat berlabuhnya perahu dari berbagai macam kerajaan di Nusantara dan mancanegara. Sebelum para tamu tersebut menuju Keraton Pakungwati terlebih dahulu akan melalui gerbang Lawang Sanga.

“Bangunan ini adalah pintu masuk atau gerbang bagi tamu dari kerajaan di Nusantara, Tiongkok, Persia, Arab dan lainnya,” ujar Juru Kunci Lawang Sanga, Suwari, Jumat (12/7).

Dijelaskannya, Lawang Sanga merupakan Syahbandar tempat dikumpulkannya upeti atau hadiah dari kerajaan lainnya sebelum diserahkan langsung kepada raja. Konon, bangunan ini pun dipercayai sebagai tempat perundingan para Wali Sanga. Serta tempat keluarnya keluarga raja bila ada serangan ke keraton.

“Bangunan Lawang Sanga sebagian besar masih asli termasuk daun pintunya yang terbuat dari kayu jati. Saat ini Lawang Sanga sudah tidak difungsikan lagi. Namun pada bulan-bulan tertentu banyak masyarakat yang datang untuk berziarah. Biasanya banyak peziarah yang datang setiap bulan Sura dan Mulud. Bangunan Lawang Sanga pernah di renovasi bagian atasnya pada tahun 1999,” pungkasnya.

Di sisi lain, beragam peristiwa yang melibatkan Sungai Kriyan timbul kesan mistis. Seperti maraknya orang hilang di sungai dan muncul dalam kondisi tak bernyawa. Sebagian besar masyarakat Cirebon meyakini mitos sosok Siluman Buaya Putih di antara Sungai Krian dan Situs Lawang Sanga.

Mitos sosok Siluman Buaya Putih ini menjadi menarik karena buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan merupakan jelmaan salah seorang putra dari Sultan Sepuh I Syamsuddin Martawijaya, tokoh dibalik pembangunan Lawang Sanga guna persiapan infrastruktur Gotrasawala yang dilaksanakan Pangeran Wangsakerta.

0 Komentar