Mengungkap Sungai Kriyan, Sosok Buaya Putih

f21d1736 02be 46a2 b708 cbaa3a988df4 large16x9 ZOO7AMZOO frame 893
0 Komentar

PERNAHKAH Anda membayangkan bagaimana melacak sejarah sungai Kriyan, sosok Siluman Buaya Putih di antara Sungai Kriyan dan Situs Lawang Sanga, melalui sebuah mitos? Jika dilihat sekilas mungkin Anda berpikir sulit mendapatkan data valid dari mitos.

Jika merunut catatan sejarah sendiri, Cirebon, secara teritorial geografis terletak di tepian pantai utara Jawa (Pantura), yang dilengkapi dengan sungai-sungai yang sangat penting peranannya sebagai jalur transportasi ke pedalaman yang letaknya di sekitar pelabuhan Cirebon. Kondisi alam yang demikian sebenarnya berpotensi untuk menjadi pusat berkembangnya peradaban, karena dengan keberadaannya yang strategis itu seharusnya mampu mengikuti gejala umum kota-kota tua yang letaknya di tepian air. Namun hal tersebut tidak terjadi pada Cirebon, setidaknya di masa pengaruh Hindu.

Pada masa itu Cirebon belum menampilkan daerah atau kota yang berarti, ia sekedar sekumpulan daerah bawahan kekuasaan Hindu yang berpusat di Kawali Galuh. Sebelum masuknya agama Islam, wilayah Cirebon telah di huni oleh sejumlah penduduk dan telah ada bentuk-bentuk pemerintahan meskipun dalam pola yang masih sederhana dan terbatas, menurut catatan lama di wilayah ini telah berdiri beberapa kerajaan Singapura, Japura, dan Keadipatian Palimanan di bawah pemerintahan Kerajaan Rajagaluh. Cirebon yang dulunya dikenal dengan nama Caruban Nagari, menampakkan diri sebagai pelabuhan yang mulai dikenal orang, ketika pengaruh Islam secara perlahan memasuki daerah-daerah pantai utara Jawa.

Baca Juga:Iluminasi dalam Naskah CirebonApa Kabar Sunda Wiwitan?

Sebuah manuskrip berbahasa China “Shun-Feng Hsiang-Sung” yang menjelaskan adanya intruksi jalur pelayaran dari Shun-t’a (Sunda Pajajaran) ke arah timur Pantai Utara menuju Che-Li-Wen (Cirebon). Dalam laporan Tome Pires, ia menggambarkan Kota Cirebon sebagai kota yang mempunyai pelabuhan yang bagus yang pada waktu ia datang menyaksikan 3-4 jung (perahu besar buatan negeri Cina) dan kurang lebih 10 lancara. Ia menggambarkan juga bahwa kota Cirebon dapat dicapai dengan menggunakan jung dan terdapat pasar yang jauhnya 1 km dari istana.

Bisa dibayangkan, kesaksian Tome Pires di tahun 1513 M, Cirebon berperan sebagai jalan lalu–lintas yang dapat dilayari perahu atau kapal ke arah pedalaman, mungkin sungai yang dimaksud sekarang adalah Sungai Kriyan (sekarang yang dapat dilayari sampai ke Cirebon Girang).

0 Komentar