Maroeto Nitimihardjo Penggagas Sumpah Pemuda yang Terlupakan

download
Maroeto Nitimihardjo
0 Komentar

Sebagai seorang Murbais, persinggungan Maruto dengan Tan Malaka tak serta merta. Muhammad Yamin-lah yang memperkenalkan Maruto terhadap gagasan Tan Malaka. Saat Kongres Pemuda II, Yamin memberikan risalah Tan Malaka berjudul Massa Actie(Aksi Massa) dan Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Kendati demikian, sebagai seorang elite terdidik, Maruto lebih memilih menjadi kader PNI Pendidikan yang dibentuk Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir hingga kedatangan Jepang.

Di masa revolusi, Maruto justru berseberangan dengan Sukarno-Hatta yang memilih berdiplomasi dengan Belanda. Ia juga menjadi sosok kunci dibalik pembacaan Proklamasi Kemerdekaan di Cirebon.

Dalam buku Ayahku Maroeto Nitimihardjo Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan karya Hadidjojo Nitimihardjo, disebutkan waktu yang berjalan cepat dalam ketidak pastian peristiwa, seorang bernama dr.Soedarsono (ayah dari Juwono Soedarsono) datang bertemu Maroeto Nitimihardjo di sebuah pengungsian bagi istri dan anaknya yaitu di desa Prapatan, sebelah barat Palimanan, 30 km jauhnya dari Cirebon tempat dr.Soedarsono berasal. Ia meminta teks Proklamasi yang dibuat Sjahrir yang katanya dititipkan pada Maroeto. Namun Maroeto menyatakan tidak ada. Hingga dr. Soedarsono menjadi berang dan berkata, “Saya sudah bersepeda 60 kilometer hanya untuk mendengar, Sjahrir tidak berbuat apa-apa. Katakan kepada Sjahrir, saya akan membuat proklamasi di Cirebon.”

Baca Juga:Siapa yang Lebih Dulu Proklamasi?Gempa Bumi Cirebon tahun 1847

Dan akhirnya terkabarlah bahwa Proklamasi itu dibuat dan dibacakan oleh dr.Soedarsono pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945 di alun-alun Cirebon yang dihadiri sekitar 150 orang. Sehari sebelum Soekarno membacakan Proklamasi di penggangsaan Timur 56 Jakarta.

Program “Merdeka 100 persen” yang diserukan Tan Malaka pada Persatuan Perjuangan tahun 1946 menarik Maruto menjadi pengikut Tan Malaka. Partai Rakyat yang dipimpinnya berfusi menjadi Musyawarah Orang Banyak atau Murba pada 7 November 1948 yang diketuai oleh Sukarni namun dipromotori oleh Tan Malaka.

Di Partai Murba, Maruto lebih banyak diam dan mengendalikan partai dari dalam. Pada dekade 1950-an, Maruto menjadi yang pertama mengeluarkan mosi menolak Konferensi Meja Bundar (KMB). Dia menjabat Wakil Ketua Partai Murba antara 1952-1963 sebelum kemudian dibekukan pemerintahan Sukarno pada 1964.

0 Komentar