Gempa Bumi Cirebon tahun 1847

Jepretan Layar 2020 12 11 pukul 23.28.37
Tangkapan Layar Nautical Magazine April 1848
0 Komentar

SEJARAH mencatat, jauh sebelumnya, fenomena gejala alam yang tertulis dalam naskah lama juga pernah digunakan sebagai legitimasi oleh Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat melalui Babad Galuh. Penobatan Prabu Siliwangi pada 1482 dibarengi dengan terjadinya gempa bumi yang diklaim sebagai sambutan alam bahwa raja baru yang akan membawa kemajuan telah hadir.

Selain dijadikan legitimasi, sumber-sumber kuno semacam itu juga sangat diragukan validitasnya. Yakob Sumarjo dan Saini K.M. dalam Hermeneutika Sunda: Simbol-simbol Babad Pakuan (2004) menyebutkan bahwa penulisan Babad Galuh, misalnya, hanya diperoleh dari bahan-bahan yang berupa mitos (hlm. 125).

Dikutip dari Nautical Magazine April 1848, disebutkan setelah beberapa lama laporan gempa tak lagi terlacak. Hingga kemudian pada 16 Oktober 1847, pagi hari terjadi tiga goncangan besar terasa nyaris di seantero barat Jawa hingga Lampung. Kali ini daerah sekitar Cirebon disebut yang paling menderita. Gempa terjadi 20-30 detik. Disertai gemuruh macam kapal buang sauh. Dalam kota Cirebon 200-an rumah remuk. Arjawinangun rata tanah. Arah goncangan dari barat daya ke timur laut.

Baca Juga:Soegra Sang Penemu TarlingSiapa Bhumi Segandu?

Bahkan, dokumen lain berjudul Uit Cheribon’s Geschiedenis disusun oleh Dr. E.C. Godde Molsbergen, seorang petugas arsip negara di Batavia, merekam peristiwa gempa bumi tahun 1847 menghancurkan bebeberapa bangunan pemerintahan, terutama gedung karesidenan.

Lebih lanjut,  tercatat tanggal 25 Oktober dan 29 November 1875, gempa juga terjadi di wilayah Kuningan. Tanah longsor dari Gunung Ciremai dan beberapa jembatan hancur.

Sehubungan dengan potensi gempa, wilayah Jawa Barat memiliki tiga sumber gempa, yaitu zona megathrust di selatan Jawa Barat, selatan Selat Sunda dan Sesar aktif di daratan. Terakhir sesar yang telah teridentifikasi adalah Sesar Baribis, Lembang dan Cimandiri. (*)

0 Komentar