PERTANYAAN daerah mana yang terlebih dahulu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Apakah Jakarta pada 17 Agustus, Karawang pada 16 Agustus, atau Cirebon pada 15 Agustus?
Filolog asal Cirebon, Raden Safari S. Hasyim, mengatakan senyapnya gaung proklamasi yang dibacakan ayahanda Menteri Pertahanan era Megawati Soekarnoputri, Juwono Sudarsono, ini juga karena faktor politik. Dia memperkirakan peristiwa itu lahir atas ketidakberdayaan Syahrir dalam membujuk Soekarno untuk segera membacakan proklamasi kemerdekaan atas desakan kaum muda pergerakan.
“Saya kira karena kental unsur politik juga,” kata pria yang akrab disapa Opan ini.
Baca Juga:Gempa Bumi Cirebon tahun 1847Soegra Sang Penemu Tarling
Dokter Soedarsono merupakan pendiri Rumah Sakit Orange (Kini RSUD Gunungjati Cirebon). Dokter Soedarsono pada akhirnya menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Syahrir II.
Menurut Opan, dipilihnya Kota Cirebon sebagai tempat pembacaan proklamasi ini karena banyaknya peristiwa perjuangan rakyat yang juga terjadi selama jelang kemerdekaan. “Soal ini bisa diperiksa juga di arsip daerah berjudul Sejarah Berdirinya Kota Cirebon,” kata Opan.
Informasi yang dihimpun carubannagari.radarcirebon.com berita kekalahan Jepang mulai tersebar hingga desa di Cirebon. Pada 15 Agustus siang sekitar pukul 14.00 WIB, Sutan Sjahrir–setelah mendengar penyerahan diri Jepang secara resmi kepada Sekutu lewat radio–menemui Mohammad Hatta di kediamannya, Diponegoro 57 Jakarta.
Satu hari kemudian, 16 agustus 1945, warga desa Waled, Timur Cirebon, serentak menempelkan lembaran-lembaran kertas, di pohon-pohon sepanjang jalan utama desa. Sebagaimana diungkap Omi Busytoni, dalam Naskah Buku Ulama Cirebon. Isi selebaran itu berupa pernyataan kemerdekaan, yang diatur oleh orang-orang gerakan bawah tanah, diprakarsai oleh dr. Sudarsono, Sugra, Sukanda, Rayati dan Kartamuhari. Mereka kemudian berpawai hingga desa Ciledug sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan dan meneriakkan kata-kata “Merdeka!”.
Beberapa hari sebelumnya, tanggal 13 Agustus 1945, gelora proklamasi sudah mulai menyelimuti para tokoh pergerakan di Cirebon. Daidancho (komandan batalyon), Zainal Asikin yang terbaring sakit di kamar No 9 Rumah Sakit Kesambi (RSUD Gunung Jati) saat itu memimpin rapat dengan 20 orang.Dia merencanakan penyerangan terhadap tentara Jepang yang akan dilakukan tanggal 14 Agustus 1945 pukul 22.00. Namun rencana tersebut tidak terlaksana karena komando dari Jakarta tidak merestui. Salah satunya dr Soedarsono, salah satu tokoh yang kemudian berani membacakan teks proklamasi yang dibuat Sutan Sjahrir.
