Kesultanan Cirebon Vassal VOC

WhatsApp Image 2020 09 02 at 18.15.45 e1607699947704
Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran, Prof.Dr. Nina Herlina Lubis, M.S
0 Komentar

Ada beberapa cara untuk menjunjung tinggi leluhur atau pendiri dinasti dalam budaya politik tradisional di Nusantara, antara lain dengan pembuatan silsilah yang menunjukkan adanya kontinuitas (kesinambungan ) kerajaan dengan kerajaan yang ada sebelumnya. Dalam naskah tersebut Pangeran Aria Cirebon mengisahkan tentang asal-usul Sunan Gunung Jati yang ditarik terus hingga Nabi Muhammad SAW, dan juga mengait dengan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang legendaris itu.

Diceritakan bahwa pendiri Cirebon adalah Raden Walangsungsang, putera Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, dari isterinya yang bernama Nyai Subanglarang, murid Syekh Quro, ulama pertama di Tatar Sunda yang mendirikan pesantren di Karawang. Setelah Nyai Subanglarang meninggal dunia, Raden Walangsungsang dan adiknya yang bernama Nyai Rara Santang, meninggalkan Pakuan dan pergi berguru kepada Ki Gedeng Danuwarsih, seorang pendeta Budha. Raden Walangsungsang kemudian menikah dengan putri Ki Danuwarsih. Selanjutnya, Walangsungsang bersama istri dan adiknya kemudian pergi berguru kepada Syekh Datuk Kahpi di Amparan Jati selama tiga tahun. Setelah cukup berguru ilmu agama Islam, Walangsungsang kemudian membuka hutan lalang, yang dikenal sebagai Tegal Alang-alang dan membangun sebuah gubug serta sebuah tajug dimulai pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Perkampungan ini lama kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai karena berdatangan orang untuk bermukim dan berdagang di tempat itu sehingga Tegal Alang-alang pun berubah menjadi Caruban, yang nantinya menjadi Cirebon. Ki Gedeng Alang-alang diangkat oleh masyarakat baru menjadi Kuwu Caruban yang pertama.

Syekh Datuk Kahpi kemudian meminta agar Raden Walangsungsang berangkat ke Mekah untuk melakukan ibadah haji dan menambah ilmu agama Islam bersama adiknya, Rarasantang. Dalam perjalanan ibadah haji itu, Rarasantang dinikahi oleh Syarif Abdullah, Sultan Mesir, yang silsilahnya bila ditarik terus ke atas, adalah keturunan Nabi Muhammad dari puterinya Siti Fatimah, dalam urutan ke-22. Dari pernikahan ini lahir dua orang anak yaitu Syarif Hidayatullah (1448) dan Syarif Arifin (1450).

Baca Juga:50 Tahun Geger Kraton Kasepuhan Terulang KembaliPenolakan Forum Previlegiatum Alexander, Ahli Waris Sultan Sepuh XI Menggugat

Sepulang dari ibadah haji, Walangsungsang berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman, dan membangun sebuah tajug yang kemudian dikenal sebagai mesjid tertua di Cirebon, yaitu tajug Jalagrahan. Setelah Ki Kuwu Caruban yang pertama meninggal dunia, Raden Walangsungsang yang juga disebut Ki Cakrabumi, diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua dengan gelar Pangeran Cakrabuana. Setelah kakeknya, yaitu Ki Gedeng Tapa, yang juga bergelar Ki Gedeng Jumajan Jati yang menguasai pesisir utara dan masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda, meninggal, Pangeran Cakrabuana tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan ia tetap sebagai Kuwu Cirebon, ia lalu mendirikan istana Pakungwati dan menyusun bentuk pemerintahan di Caruban serta membentuk angkatan perang.

0 Komentar