Kesultanan Cirebon Vassal VOC

WhatsApp Image 2020 09 02 at 18.15.45 e1607699947704
Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran, Prof.Dr. Nina Herlina Lubis, M.S
0 Komentar

Ketika Walangsungsang mendapat warisan harta dari kakeknya, Ki Jumajanjati, penguasa wilayah Singapura, kekuasaannya semakin besar. Kekuasaan atas Cirebon yang semakin besar itu kemudian diserahkan kepada Syarif Hidayatullah, keponakannya, yang datang dari tanah Arab dan bermukim di Gunung Sembung. Walangsungsang menjadi pendukung dan penasehat Syarif Hidayatullah sampai wafatnya pada tahun 1529 dan dikuburkan di Gunung Sembung.

Menurut Soemarsaid Moertono, dalam tesisnya “Negara dan Usaha Bina Negara di Jawa Masa Lampau”, para penulis babad, dihadapkan kepada keganjilan bahwa ada dua dinasti (yaitu Cirebon dan Banten) yang tidak memiliki pertalian dengan dinasti sebelumnya (Pajajaran), dengan berbagai akal menghubungkan mereka dengan raja-raja lama Pajajaran hanya dengan membayangkan saja bahwa seorang putra dan seorang puteri salah seorang Raja Pajajaran terakhir telah dikirim ke Arab, …”

Ini disebutnya sebagai usaha legitimasi kekuasaan Sunan Gunung Jati, yang disebut sebagai pendatang, agar diterima oleh masyarakat di bekas kekuasaan Raja Pajajaran dan juga sah sebagai penyebar Islam. Menurut De Graaf, Syarif Hidayatulllah, lebih dapat diterima sebagai seorang ulama asal Pasei, yang datang ke Demak karena Pasai waktu itu dikuasai Portugis

Baca Juga:50 Tahun Geger Kraton Kasepuhan Terulang KembaliPenolakan Forum Previlegiatum Alexander, Ahli Waris Sultan Sepuh XI Menggugat

Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, disebutkan bahwa tokoh dari Pasai itu bernama Fadhillah Khan, menantu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dalam penelitian Dadan Wildan, ternyata di Pemakaman Raja-raja Cirebon itu, ada dua makam, yaitu makam Sunan Gunung yang berdampingan dengan makam Fadhillah Khan yang disebut juga makam Tubagus Pasai. Namun, belum bisa dipastikan benar apakah Falatehan atau Fatahillah ini sama dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati ataukah Faletehan ini adalah menantu Sunan Gunung Jati karena belum ditemukannya sumber primer tentang kedua tokoh ini.

Selain itu, Pangeran Aria Cirebon juga mengisahkan pernikahan Sunan Gunung Jati, dengan beberapa wanita yaitu: (1) Nyai Pakungwati, puteri Raden Walangsungsang dan (2) Nyai Babadan, puteri Ki Gedeng Babadan. Walaupun tidak bersamaan waktunya, Syarif Hidayatullah menikah pula dengan (3) Nyai Kawung Anten (adik bupati Banten) dan berputera antara lain Maulana Hasanuddin, yang menjadi Raja Banten (4) Syarifah Baghdadi (adik Pangeran Panjunan), (5) Ong Tien Nio (puteri keturunan Cina), dan (6) Nyai Tepasari puteri Ki Gedeng Tepasari dari Majapahit yang berputera antara lain Pangeran Pasarean. Memang para raja, biasa memiliki isteri atau selir dalam jumlah lebih dari satu. Hal ini dilakukan untuk mengikat kesetiaan dari masyarakat dari mana si isteri atau selir itu berasal, dan mungkin juga untuk mengikat kesetiaan (loyalitas) tokoh politik lokal yang puterinya dinikahi. Perkawinan seperti ini bisa juga memudahkan Islamisasi. Selain itu, anak dari hasil perkawinan ini bisa dijadikan sebagai kepanjangan tangan raja. (*).

0 Komentar