Dihadiri Polmak Kraton Kasepuhan, Pelal Ageng Panjang Jimat Kraton Kanoman Cirebon

d8b9a055 5472 44e1 a7e9 f8ceb6b61dcf 1170x658 1
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Cirebon disebut sebagai puser bumi yaitu pusat penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam peninggalan yang tersebar di daerah ini. Satu diantaranya adalah tradisi Maulid Nabi yang rutin dilaksanakan masyarakat

Cirebon untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini disebut Upacara Panjang Jimat atau Pelal. Pelal dilaksanakan di berbagai daerah di Cirebon, utamanya dilaksanakan di Keraton Kanoman.

Ritual Panjang Jimat dimulai sekitar pukul 21.00 WIB yang dipimpin langsung Patih Keraton Kanoman Pangeran Raja Muhammad Qodiran. Panjang Jimat merupakan arak-arakan benda-benda pusaka yang dipergunakan untuk menyambut kelahiran.

Baca Juga:Rayakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, Begini Pesan Polmak Kraton KasepuhanKuasa Hukum Ahli Waris SS XI: Jangan Ada Pihak-pihak yang Menunggangi

Juru Bicara Kesultanan Kanoman Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina, mengatakan, istilah Pelal Ageng berarti malam keutamaan yang besar yakni malam dimana Rasulullah lahir kedunia. Sementara istilah Panjang Jimat berasal dari kata Panjang yakni sebuah piring pusaka berbentuk bundar besar pemberian seorang Pertapa suci bernama Sanghyang Bango dari Gunung Siangkup.

“Sedangkan istilah Jimat yakni sebuah benda apapun yang mempunyai nilai sejarah dan nilai pusaka yang harus dijaga. Istilah Jimat sendiri pada dasarnya adalah sebutan untuk nasi yang dalam prosesnya ketika menjadi gabah dikupas satu-persatu setiap biji berasnya sambil melantunkan solawat kepada Nabi Muhammad Saw oleh rombongan Bapak Sindang kasih,” ungkap Arimbi saat ditemui setelah melaksanakan kegiatan Panjang Jimat.

Kemudian, sambung Arimbi, beras tersebut disucikan atau dipesusi di Sumur Bandung dengan diiringi lantunan solawat oleh rombongan ibu-ibu yang suci dalam kata lain menjaga wudhu dari hadas kecil dan hadas besar dan salah satunya adalah Perawan Sunti.

“Terus nantinya beras itu di cuci di Sumur Bandung dengan iringan solawat,” ujar Arimbi.

Masih kata Arimbi, nasi yang proses memasaknya diiringi solawat inilah yang disebut nasi jimat. Jimat yang dimaksud adalah solawat yang dipanjatkan kepada Rasulullah Saw, karena solawat inilah yang menjadi sebab syafa’at umat manusia ketika tiba hari pembalasan.

“Dengan kata lain, panjang Jimat adalah iring-iringan nasi jimat yang diletakan di atas piring panjang sehingga malam pelalageng itu disebut malam Panjang Jimat, malam yang bersejarah dalam sejarah manusia dan alam semesta,” ucap Arimbi.

0 Komentar