Namun bukan berarti tak ada. Dalam “Bangunan Suci pada Masa Kerajaan Sunda: Data Arkeologi dan Sumber Tertulis,” yang terbit dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, Agus Aris Munandar menyebut masyarakat Sunda Kuno sebenarnya punya tempat suci persemayaman dewa dan tanah bagi para wiku, yaitu kaum agamawan yang menarik diri dari dunia ramai. Masyarakatnya memeluk agama Hindu-Buddha sebagaimana masyarakat Jawa Kuno.
Namun yang berbeda adalah sebutannya. Sumber-sumber menyebutnya kabuyutan. Ada juga permukiman kaum agamawan disebut mandala. Sedangkan sasakala konsepnya mirip bangunan pendharmaan bagi raja yang telah mangkat.
Sasakala muncul dalam kitab Bujangga Manik, laporan perjalanan sang pendeta Sunda yang berkeliling Pulau Jawa pada akhir abad ke-15 M. Disebutkan di Arega Jati (gunung sejati) terdapat tempat Petirtaan Jalatunda sebagai monumen peringatan untuk Silih Wangi (Sasakala Silih Wangi).
Baca Juga:Tidak Ada Nama Raja Sunda Bernama Prabu Siliwangi?Pangeran Sutajaya Punya Banyak Nama?
“Sasakala adalah tempat untuk mengenang atau memuliakan tokoh yang telah mangkat. Sementara, pada candi pendharmaan (periode Jawa Timur, red.) raja yang telah mangkat dan dimuliakan itu dianggap sebagai dewa (dewaraja),” jelas Agus.
Kabuyutan, menurut Agus, mengacu pada tempat atau struktur bangunan yang mungkin berbeda dengan bangunan suci pada masa Jawa Kuno. Dalam Cerita Parahyangan muncul kalimat yang berhubungan dengan kabuyutan: “Yang membuat kabuyutan-kabuyutan dari sang Rama, dari sang Resi, dari sang disri, dari sang Tarahan bagi Parahyangan.”
Menurut Agus, sangat mungkin kabuyutan yang dimaksud Carita Parahyangan adalah bangunan suci atau tempat persemayaman para leluhur. Tempat suci itu juga disebut dalam naskah Amanat Galunggung. Bahkan dijelaskan betapa pentingnya kedudukan kabuyutan yang terdapat di Gunung Galunggung.
“Kabuyutan Galunggung mungkin merupakan kabuyutan utama yang disucikan masyarakat Sunda dan menjadi pusaka kerajaan,” kata Agus.
Naskah Bujangga Manik memberikan petunjuk lain soal bangunan suci di wilayah Sunda Kuno. Di Gunung Gede sekarang, terdapat kabuyutan yang dipuja dan dikeramatkan seluruh penduduk Pakuan. Dari sana diperoleh petunjuk bahwa ketika Kerajaan Sunda berpusat di Pakuan pada abad ke-15 M terdapat kabuyutan yang menjadi kabuyutan kerajaan.
