Pada tanggal 13 Maret 1809, bagian utara dikepalai oleh tiga orang sultan (Sultan Kasepuhan, Sultan Kanoman, dan Sultan Kacirebonan). Wilayah kekuasaan Sultan Sepuh (Kasepuhan) adalah bagian selatan yang daerahnya meliputi Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon; bagian tengah adalah kekuasaan Sultan Anom (Kanoman) yang diperkirakan sama dengan daerah Kabupaten Majalengka sekarang, dan Sultan Kacirebonan menguasai wilayah Indramayu yang terletak sebelah barat Cimanuk dan Kandanghaur. Sedangkan kota Cirebon dan sekitarnya yang, terdiri dari pesawahan dibagi dua antara Sultan Sepuh dan Sultan Anom.
Bersama Rakyat Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina, adalah adik dari Sultan Kanoman XII yaitu Kanjeng Gusti Sultan Raja Mohammad Emirudin menceritakan ihwal Kesultanan Kanoman yang dibangun oleh Pangeran Muhamad Badrudin Kertawijaya, bergelar Sultan Anom I. Ia mendirikan keratonnya di bekas rumah Pangeran Cakrabuana ketika baru saja datang ke Tegal Alangalang bernama Witana.
Titimangsa tahun berdirinya Kraton Kanoman tertulis dalam sebuah gambar yang ada di Pintu Jinem Kraton Kanoman, yang menggambarkan “matahari” berarti 1, “wayang darma kusuma” yang berarti 5, “bumi” berarti 1, dan “binatang kamangmang” yang berarti 0. Candrasangkala tersebut menunjukkan angka tahun 1510 Saka atau 1588 M. Jadi Kraton Kanoman didirikan pada tahun 1510 Saka atau 1588 M. Kraton Kanoman dibangun menghadap ke utara, seperti halnya magnet bumi, galaksi, semua menghadap ke utara.
Baca Juga:Ada Apa dengan Saka Tatal Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon?Peristiwa Puputan Bayu, Perang di Blambangan
“Kesultanan Kanoman ini awalnya adalah bagian dari Kraton Cirebon. Fase ini sebelum munculnya istilah Sultan atau Kesultanan. Namun Sultan Banten, Ki Ageung Tirtayasa menobatkan dua pangeran dari Putra Panembahan Adining Kusuma (Kerajaan Mataram) untuk memegang kekuasaan di Kraton Cirebon. Yaitu, Pangeran Badriddin Kartawijaya bergelar Sulran Anom dan Pangeran Syamsuddin Martawijaya bergelar Sultan Sepuh,” ungkap Sekretaris Kesultanan Kanoman ini.
Peristiwa ini terjadi pada 1677-1688, lanjut Ratu Raja Arimbi, pasca ibu kota Mataram direbut oleh Trunojoyo. Saat itu, Kraton Cirebon dipimpin oleh tiga orang penguasa sekaligus antara lain, Martawijaya, Kartawijaya dan Wangsakerta. “Munculnya istilah kesultanan sendiri karena dua penguasa, Marta dan Karta yang bergelar sultan. Setelah itu, kita mengenalnya dengan Kesultanan Kanoman (Badridin Karta) dan Kesultanan Kasepuhan (Samsudin Marta),” imbuhnya.
