Ratu Raja Arimbi Nurtina: Saya Sedih Melihat Nasib Aset Kraton

Juru Bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina ST
Juru Bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina ST
0 Komentar

Tak mudah menemukan Kraton Kanoman. Bukan perkara letak geografisnya yang terpencil, sepanjang hari ia tertutup keriuhan Pasar Kanoman. Padahal akses jalan satu-satunya menuju gerbang depan kraton selalu harus dimulai dari Jalan Pasar Kanoman. Asal tahu, seluruh badan jalan tertutup oleh lapak-lapak pedagang dan parkir kendaraan.

Dalam sebuah kesempatan, Ratu Raja Arimbi, adik Sultan Kanoman Emirudin mengungkapkan Kraton adalah tempat lahirnya budaya dan adat istiadat. Banyak orang ingin datang ke keraton, tapi khusus kraton Kanoman sulit diakses publik karena banyaknya pedagang yang berdagang di jalan yang menuju pintu kraton. “Padahal, jika akses masuk ke keraton mudah, maka semakin banyak orang yang berkunjung untuk belajar tentang adat istiadat, budaya dan tradisi keraton,” ujarnya.

Pada masa penjajahan, Kraton Kanoman menjadi pusat perlawanan rakyat Cirebon terhadap pemerintah Hindia Belanda. Lalu, untuk meredam perlawanan itulah pasar Kanoman akhirnya didirikan oleh pemerintah kolonial dan semakin dilebarkan hingga mendekat ke arah keraton. Bahkan, pemerintah kolonial kerap menggunakan pasar untuk kegiatan mata-mata terhadap segala aktivitas kraton.

Baca Juga:Ada Apa dengan Saka Tatal Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon?Peristiwa Puputan Bayu, Perang di Blambangan

“Awalnya, ketika itu Kesultanan Cirebon terpecah. Maka pemerintah Hindia Belanda atas kebijakan sepihaknya, membangun pasar itu di depan Kraton Kanoman,” ungkap wanita kelahiran 1976.

Dikatakan Ratu Raja Arimbi, alhasil dari strategi itu, pemerintah kolonial Belanda mencoba membatasi akses sebagian masyarakat dengan kraton Kanoman karena ditutup bangunan pasar. Ia berharap, Pasar Kanoman menjadi pasar budaya Cirebon. “Pasar bisa menjadi destinasi wisata yang terhubung dengan Kraton Kanoman. Jadi terintegrasi,” tuturnya.

Saat disinggung soal nasib aset Kraton Kanoman? Ratu Raja Arimbi menyatakan sejauh yang dipahami, aset-aset milik Keraton Kanoman masih ada. “Ada yang masih dalam garapan dan ada juga yang belum terpelihara. Perlu adanya pendataan ulang, dan perlunya tim yang kompeten di bidang hukum dan advokasi, administrasi, serta historis. Kami sedang mendata serta menginventarisir kembali,” imbuh Juru Bicara Kesultanan Kanoman ini.

Ia tampak prihatin melihat nasib aset Kraton Kanoman. “Saya sedih. Harapan kepada pemerintah, bisa bersama-sama menguatkan sisi tradisi, kultural dan syiar dalam kemaslahatan umat,” pungkasnya, Rabu (29/7). (*)

0 Komentar