Nama tahun diambil dari siklus tahun Tionghoa yang lamanya 60 tahun. Adapun tahun-tahun renovasi vihara ini yang tercatat adalah tahun 1791, 1829, dan 1889 (Ezerman, 2003: 6). Catatan mengenai renovasi yang terjadi di tahun 1791 dapat dibaca pada dua bua batu terukir yang terletak pada dinding kanan dan kiri pada ruang utama depan.
Sedangkan mengenai renovasi kedua dan ketiga terdapat pada dua papan kayu lepas yang diletakkan di serambi beratap tetapi tidak tertutup. Serambi itu ada dibelakang kelenteng yang sebenarnya.
Tulisan papan ini merupakan pertanggungjawaban mengenai keuangan pembangunan dan daftar nama para donator Pada pertanggungjawaban pengeluaran uang tahun 1791 diperoleh informasi bahwa biaya renovasi menggunakan mata uang VOC. Di dalamnya dengan jelas dan terperinci ditulis jumlah material dan jumlah hari kerja.
Baca Juga:Baba Chong An di Desa JamblangArca Dewa Siwa Masa Indraprastha di Goa Sunyaragi
Jumlah hari-hari kerja orang Tionghoa adalah 1688 hari, sedangkan jumlah hari kerja orang pribumi adalah 1518 hari. Pada saat Ezerman menuliskan hasil penelitiannya pada 1918, vihara ini berada pada perbatasan perkampungan Tionghoa. Bangunan tersebut dikelilingi oleh kantor-kantor dan gudang-gudang.
Lalu lintas pada jalan antara kantor dan perkampungan Tionghoa pun padat. Selain itu, juga terdapat jalan kereta api yang terletak dekat pintu gerbang, dokar berlalu lalang, pedati yang ditarik oleh sepasang kerbau berjalan dengan pelanpelan.
Karena itu, sepanjang hari dapat ditemukan di sana perjuangan hidup manusia dan hewan. Mengenai kata “Sie”, Ezerman menjelaskan arti kata “Sie” sebagai tempat tinggal para rohaniwan. Jika dikaitkan dengan Koan Iem, “Sie” berarti vihara.
Oleh karena itu, pada vihara-vihara yang besar di Pulau Pinang atau Singapura dan terutama di Tiongkok banyak rohaniwan yang bertempat tinggal di sana. Dengan demikian vihara dapat dikatakan sebagai sebuah asrama rohaniwan.
Namun, di vihara di Cirebon, hanya ada seorang Hwee Shio yang memimpin kebaktian di samping bertugas sebagai penunggu vihara. Sedangkan “Tiao” berarti air laut yang sedang naik atau pasang dan “Kak” berarti bangun dari tidur atau membangunkan/membawa ke arah pencerahan yang benar.
Dengan demikian, Vihara Tiao Kak Sie bermakna “Vihara di mana gelombang pasang membangunkan kita” atau “Vihara di mana pencerahan kita akan bertambah”. Menurutnya, arti yang kedua ini merupakan pandangan yang terdapat dalam agama Buddha.
