Setelah menyanyikan sebuah lagu, Albers membagikan hadiah.
“Baju menjadi hadiah yang paling disenangi. Mereka yang tidak perlu diberi baju, seperti (janda) Nyonya Cohen, orang Tionghoa dan istrinya, mendapat cangkir. Anak-anak kami dan beberapa anak Eropa lainnya, jumlahnya enam orang, dan orang dewasa, mendapat hadiah masing-masing,” kata Albers. “Tak seorang pun bertangan kosong. Ini sungguh suatu kenikmatan!”
Kegembiraan Albers melihat anak-anak dan sebagian orang Kristen memakai baju baru, sebelumnya juga diceritakan dalam suratnya tanggal 2 Januari 1880. “Saya menyadari bahwa (di Nederland) akan ada banyak tokoh yang anggun, arif, dan bijaksana, barangkali juga nona-nona yang serupa, menganggap ini menggelikan.”
Albers menerima saja penilaian itu, tapi dia tetap gembira karena mereka harus berusaha keras agar dapat berpenampilan begitu. Untuk itu mereka terpaksa melakukan pengeluaran yang menurut ukuran mereka cukup besar. “Mereka mau melakukannya, karena hari itu merupakan Hari Raya Kristen, karena Natal bagi mereka merupakan pesta Kristen yang artinya dirasakan dalam hati. Menurut saya agama Kristen mulai memiliki tempat di hati mereka, dan selain adat Islam lahirlah adat Kristen. Bukankah pada Lebaran orang Islam memakaikan baju pada anak-anaknya? Ternyata orang Kristen melakukannya pada Natal. Tentu saja kejadian ini tak akan begitu memukau dan menarik bagi saya seandainya saya telah memberi perintah, isyarat, atau teguran. Sebaliknya, gejala ini sepenuhnya timbul dari jemaat sendiri.”
Baca Juga:Lapangan Terbang Ulin Dibom Jepang Tahun 1941Parpol Pertama Tahun 1912, Partai Hindia Belanda
Pada 1899, J. Verhoeven, zendeling yang bertugas di Majalengka (1878-1882), mencatat bahwa bagi orang Kristen Indonesia, termasuk orang Kristen Sunda, Natal menjadi pesta Kristen yang utama. “Orang Kristen Sunda menamakannya tanggal salawe (tanggal 25-Red), dan memandangnya sebagai lebaran mereka,” tulis Verhoeven.
Pentingnya Natal di mata orang Kristen Sunda dibuktikan oleh kejadian yang berlangsung di jemaat Gereja Rehoboth di dekat Indramayu pada 1915. Van de Weg, zendeling di Juntikebon Indramayu, menulis dalam suratnya tanggal 2 Februari 1916 bahwa jemaat mengabaikan gedung gerejanya hingga roboh dan tak mau memperbaikinya kalau tak mendapat upah. “Tapi, ketika mereka sadar bahwa gedung itu merupakan tempat perayaan Natal mendatang, dalam sekejap mata mereka membangun gereja baru.”
