HARI itu, Natal Kedua, 26 Desember 1881, 26 jemaat Cianjur merayakan Perjamuan Kudus. Sebelumnya, utusan Injil (zendeling) Christiaan Albers menerima peti berisi bermacam-macam hadiah dari Negeri Belanda.
Albers merupakan zendeling tertua di Jawa Barat. Dia tiba di Batavia pada 1863, kemudian ditugaskan di Cianjur hingga tahun 1886. Albers menceritakan perayaan Natal di Cianjur dalam suratnya kepada Pengurus Pusat Perhimpunan Pekabaran Injil Belanda (NZV) tanggal 4 Januari 1882. Surat tersebut diterjemahkan Th. van den End dan disertakan dalam buku Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858-1963.
Menurut Th. van den End, NZV lahir dari Perhimpunan untuk Memajukan Karya Pekabaran Injil yang didirikan di Rotterdam oleh sejumlah “sahabat zending” pada 2 Desember 1858. Pembentukan ini merupakan bentuk kekecewaan mereka terhadap haluan yang ditempuh Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), lembaga pekabaran Injil terpenting di Negeri Belanda.
Baca Juga:Lapangan Terbang Ulin Dibom Jepang Tahun 1941Parpol Pertama Tahun 1912, Partai Hindia Belanda
Di Hindia Belanda, NZV menguasai daerah Priangan atas anjuran beberapa tokoh Kristen di Batavia. Pada 1863 para utusan NZV yang pertama menetap di Bandung dan Cianjur, termasuk Albers. Sementara di Cirebon dan Indramayu telah berdiri gereja dengan jemaat terdiri atas orang-orang Tionghoa, dengan dua utusan menetap di sana.
“Orang Sunda ternyata menutup diri terhadap Injil, sedangkan orang Tionghoa memberi harapan,” tulis van den End. “Beberapa kali seorang utusan NZV menjalin hubungan dengan orang Baduy di Banten Selatan. Tapi pemerintah Hindia Belanda tak mengizinkan kegiatan pekabaran Injil di tengah kelompok terpencil yang menganut agama Jawa asli itu.”
Tak heran jika Albers merasa senang perayaan Natal di wilayahnya berlangsung meriah.
“Jadi, perlu dibuat pohon Natal,” kata Albers. Dibantu para jemaat, dia membuat pohon Natal dari batang pohon pisang yang besar, lalu dihiasi barang-barang cemerlang, dedaunan wiringin dan kamuring, bunga mawar, dan bunga-bunga lain yang beraneka warna dan bentuk. Setelah itu, pohon itu dihias 70 lebih lilin dan dimuati berbagai hadiah dari bawah sampai atas.
Pukul setengah delapan para peserta pesta masuk. Pohon Natal itu berkilauan cahaya, sehingga memudarkan lampu-lampu lainnya. “Orang Sunda kita, besar-kecil, duduk di atas tikar di sepanjang dinding, sedangkan orang Eropa mengambil tempat di atas kursi dan bangku,” kata Albers.
