Kaisar Theodosios II pada tahun 415 kemudian membangun ulang sebuah gereja basilika di tempat yang sama, dengan lima nave dan pintu masuk yang cukup monumental, juga dengan atap kayu.
Pada 532 M, terjadi kerusuhan Nika menyerang Konstantinopel. Kerusuhan itu terjadi pada tahun kelima Justinian I menduduki jabatan kaisar. Kerusuhan inilah yang kemudian menyebabkan gereja kedua itu mengalami kehancuran, tepatnya pada 13 Januari tahun yang sama.
“Orang-orang benci pajak tinggi yang Justinian kenakan dan mereka ingin dia turun dari jabatannya,” kata sejarawan dari University of London Caroline Goodson dalam sebuah film dokumenter National Geographic, seperti dikutip Livescience.
Baca Juga:Hari Kemerdekaan Indonesia versi Belanda Tahun 1949Kepulauan Tambelan Jadi Wilayah Hindia Belanda Tahun 1941
Singkat cerita, Justinian berhasil meredam kerusuhan yang diinisiasi oleh kelompok aristokrat beserta para pedagang tersebut. Ia kemudian memerintahkan Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles), keduanya merupakan arsitek terkenal pada saat itu, untuk mendirikan ulang gereja itu.
Struktur bangunan ketiga inilah yang kemudian bertahan hingga saat ini, dan pada abad ke-15 mulai disebut dengan Hagia Sophia, yang berarti “Kebijaksanaan Suci.”
Menurut keterangan sejarawan Prokopios, pembangunan gereja ketiga ini dimulai pada 23 Februari 532 dan berhasil dirampungkan dalam tempo sekira enam tahun saja. Gereja ini kemudian dibuka untuk kebaktian melalui sebuah upacara pada tanggal 27 Desember 537. Pembangunan itu termasuk cepat mengingat kemegahan bangunan dan teknologi yang digunakan pada saat itu.
Di bawah kubah gereja itu, ada 40 jendela.
“Sinar matahari memancar dari jendela yang mengitari kubah tingginya, menyinari interior dan mosaik emas [di dalamnya], tampak melembutkan soliditas dinding-dindingnya dan menciptakan suasana misteri tak terlukiskan,” tulis peneliti Victoria Hammond dalam sebuah bab dalam buku Visions of Heaven: The Dome in European Architecture,” seperti dikutip Livescience.
Kaisar Justinian memerintahkan semua provinsi di bawah pemerintahannya untuk mengirim bahan bangunan terbaik yang akan digunakan untuk membangun Hagia Sophia. Kolom dan marmer yang digunakan diambil dari kota-kota kuno di dan sekitar Anatolia dan Suriah seperti Aspendus Ephessus, Baalbeek, dan Tarsa. Marmer putih berasal dari Pulau Marmara, sementara marmer merah muda diambil dari Afyon, dan yang kuning berasal dari Afrika Utara.
