BERKUNJUNG ke Istanbul, Turki, mungkin bukanlah pilihan utama bagi orang saat merencanakan liburan Natal dan tahun baru. Namun sesungguhnya kota ini memiliki segudang tempat menarik dan indah untuk dikunjungi, meski sebagian besar masyarakatnya tidak merayakan hari raya Natal.
https://twitter.com/eevriviades/status/1342790989568765952?s=20
Di tempat ini, selain dapat menikmati Hamam atau pemandian ala Turki yang khas di kota ini serta berbagai acara Natal yang diselenggarakan oleh para ekspatriat, Anda dapat menyaksikan sendiri sebuah bangunan yang telah ditempa gelombang zaman selama ribuan tahun dan merupakan salah satu bangunan paling penting di dunia: Hagia Sophia.
Pada bangunan ini, Anda bisa melihat bentuk kemegahan yang berhasil bertahan untuk terus berdiri melewati peralihan rezim keagamaan yang berbeda. Ia juga menjadi salah satu komponen dari situs warisan dunia UNESCO yang disebut dengan Area Bersejarah Istanbul. Bangunan yang kini telah dialihfungsikan menjadi museum itu adalah saksi bisu sejarah berlangsungnya transisi rezim yang menguasai Konstantinopel (saat ini Instanbul), mulai dari pagan, Katolik Ortodoks, hingga kekaisaran Islam.
Baca Juga:Hari Kemerdekaan Indonesia versi Belanda Tahun 1949Kepulauan Tambelan Jadi Wilayah Hindia Belanda Tahun 1941
Ketika memasuki bangunannya, maka sebuah pemandangan yang mampu menggetarkan hati dapat disaksikan. Tidak hanya karena kompleksitas struktur bangunannya dan keindahan ornamennya, namun juga simbol-simbol yang terdapat di dalamnya. Salah satunya adalah mosaik apse Perawan Maria yang sedang menggendong bayi Yesus diapit oleh kaligrafi Allah dan Muhammad.
https://twitter.com/VegasPBS/status/1329095868885176320?s=20
Ayasofya, nama Turki dari Hagia Sophia, sepanjang sejarahnya sendiri telah mengalami pembangunan sebanyak tiga kali. Menurut keterangan Pemerintah Turki, bangunan itu dinamai Megale Ekklesia atau Gereja Besar ketika pertama kali didirikan.
Menurut ensiklopedia Britannica, bangunan ini pertama kali dibangun oleh Kaisar Konstantinus I pada 325 Masehi, di atas pondasi atau tempat kuil pagan. Gereja ini menjadi tempat para penguasa dimahkotai dan menjadi katedral paling besar yang beroperasi sepanjang periode kekaisaran Bizantium.
Pada saat itu, bentuknya menyerupai basilika: menjulang ke atas dan memiliki atap kayu. Sayang, gereja ini terbakar habis ketika kerusuhan terjadi pada tahun 404 M yang diakibatkan oleh perseteruan istri Kaisar Arkadios yang bernama Eudoksia dengan Uskup Agung Konstantinopel Ioannes Chrysostomos yang diasingkan.
