“Tuhanku, terima kasih telah memberikan aku kesempatan untuk menciptakan tempat ibadah yang luar biasa,” menurut beberapa sumber sejarah, kalimat itulah dikatakan Justinian saat memasuki ruangan bangunan. “Sulaiman, aku berhasil mengalahkanmu.”
Justinian merujuk pada kuil Sulaiman di Yerusalem.
Babak baru Hagia Sophia dimulai pada 1453 ketika era Kekaisaran Bizantium berakhir karena ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II dari Kekaisaran Ottoman. Di bawah kepemimpinan Mehmed, Hagia Sophia dialihfungsikan dari gereja menjadi masjid.
Saat itu, menurut catatan peneliti Elisabeth Piltz dalam serial buku British Archaeological Reports tahun 2005, Hagia Sophia dalam kondisi yang sangat buruk. Meski demikian, bangunan itu memberikan impresi mendalam pada Sultan Mehmed.
Baca Juga:Hari Kemerdekaan Indonesia versi Belanda Tahun 1949Kepulauan Tambelan Jadi Wilayah Hindia Belanda Tahun 1941
“Kubah luar biasa, mampu bersaing dengan sembilan surga! Melalui karya ini, seorang master telah menampilkan keseluruhan ilmu arsitektur,” tulis sejarawan Ottoman Tursun Beg pada abad ke-15, seperti diterjemahkan dari buku Piltz.
Bangunan Hagia Sophia kemudian diperkuat strukturnya dan dilindungi dengan baik pada masa Ottoman. Pada abad ke-16 dan ke-17, sejumlah bagian ditambahkan, di antaranya empat menara di luar bangunan yang digunakan untuk melakukan panggilan salat, sebuah tempat lilin besar, mihrab, dan mimbar (mimbar).
Selain itu, Piltz menuliskan bahwa setelah penaklukan Ottoman, mosaik-mosaik yang ada di Hagia Sophia disembunyikan di bawah cat kuning, kecuali mosaik Theotokos (Perawan Maria dengan Bayi Yesus). Selain itu, lempengan cakram dengan kaligrafi Islam diletakkan di pilar mengapit apse dan pintu masuk nave.
Gaya arsitektur Hagia Sophia ini, khususnya pada kubahnya, mempengaruhi arsitektur Ottoman generasi selanjutnya, terutama dalam pengembangan masjid biru yang dibangun di Istanbul pada abad ke-17.
Selama periode kepemimpinan Sultan Abdülmecid antara tahun 1847 dan 1849, renovasi ekstensif dilakukan Fossati bersaudara dari Swiss. Dalam renovasi itu, Hunkar Mahfili (kompartemen terpisah di mana sultan berdoa) yang terletak di bagian utara dihilangkan dan dipindahkan ke sisi sebelah kiri mihrab.
Pada 1934, pemerintah Turki di bawah presiden pertamanya Kemal Atatürk, yang terkenal dengan sekularisasinya, menjadikan Hagia Sophia sebagai museum.
