ALUNAN Gesekan biola Wage Rudolf Supratman membelah ruangan di Gedung Indonesische Clubgebouw. Di Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 itulah pertama kali lagu Indonesia Raya dilagukan
https://twitter.com/VideoSejarah/status/1321331844739002369?s=20
\Tanpa syair. Sejarah lagu Indonesia Raya hingga menjadi lagu kebangsaan resmi Indonesia diliputi perjalanan berat. Lagu ini jadi kontroversi di mata Belanda, bagai ancaman yang terus-menerus coba dimusnahkan pemerintah kolonial.
Suatu hari di medio 1920-an, W.R. Supratman menemukan sebuah artikel. Isinya adalah ajakan bagi para komponis Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan Indonesia. Supratman pun mengarang sebuah lagu yang saat itu ia namai “Lagu Kebangsaan”.
Baca Juga:Kata Pandemi Terpilih Menjadi Word of The Year 2020 versi Dictionary.com39 Tahun Lalu, Lahir Bayi Tabung Pertama Berjenis Kelamin Perempuan
Lagu itu pertama kali diperdengarkan secara terbatas dalam Kongres Pemuda II. Supratman hadir kala itu. Ia bukan orang baru. Supratman adalah wartawan.
Supratman pertama kali kembali ke Pulau Jawa pada 1924, setelah bertahun-tahun ikut kakaknya yang tinggal di Makassar. Di Jawa, Supratman bekerja sebagai jurnalis di Bandung dan menyumbangkan artikel-artikelnya ke surat kabar Kaoem Modeda, Kaoem Kita, dan Sin Po.
Saat Kongres Pemuda I diselenggarakan 30 April-2 Mei 1926, Supratman ikut meliput sebagai wartawan koran Sin Po. Dari kehidupan-kehidupan itulah ketertarikan Supratman pada pergerakan tumbuh.
Supratman juga berkontribusi menciptakan banyak lagu perjuangan yang membangkitkan semangat. Ciptaan pertamanya adalah lagu berjudul Dari Barat Sampai ke Timur.
Dalam Kongres Pemuda II, Supratman bertemu dengan Soegondo Djojopoespito, yang memintanya membawa lagu Indonesia Raya. Namun mengingat banyaknya represivitas pemerintah kolonial terhadap semangat-semangat memerdekakan –termasuk lewat penciptaan lagu, akhirnya lagu Indonesia Raya dilantunkan dalam nada biola, tanpa syair.
Meski begitu salinan naskah lagu telah disampaikan di awal acara kepada sebagian pemuda yang hadir di kongres. Lantunan biola Indonesia Raya hari itu disambut dengan gemuruh tepuk tangan para hadirin.
Tak butuh lama. Lagu Indonesia Raya menyebar ke segala penjuru. Laporan tentang lantunan lagu Indonesia Raya disampaikan oleh koran Sin Po. Mereka menerbitkan pamflet dengan syair lagu Indonesia Raya yang dijual 20 sen per lembar. Supratman mendapat royalti sebesar 350 gulden atas penerbitan pamflet tersebut.
