Surat Keputusan (SK) Wali Kota Cirebon hanya menyebutkan 51 bangunan cagar budaya dan 10 bangunan yang diduga cagar budaya. Situs Matangaji tidak ter-cover di dalamnya, mungkin karena sebagai struktur, alih-alih bangunan. Jumlah ini berbanding terbalik dengan fakta masa lalu Cirebon, yang menjadi mata rantai bagi sejarah Nusantara. Kita mafhum bahwa Cirebon memiliki fase-fase sejarah yang sangat penting, mulai dari era Hindu-Budha, Islam,
kolonialisme bangsa-bangsa Eropa, hingga kemerdekaan. Semestinya bukan hanya bangunan yang diperhitungkan keberadaannya, melainkan benda, situs, struktur, dan kawasan juga.
Situs Matangaji berpotensi ditetapkan sebagai cagar budaya, jika saja kondisinya masih utuh. Mengacu pada UU Nomor 11 tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan, berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan, baik yang berada di darat maupun di air, karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.
Baca Juga:Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Ketujuh)Cerita Ki Buyut Nuralim Ketika Pindahkan Batu Banteng
Situs Matangaji, jika diperhatikan dari segi bentuknya, sebetulnya bukan merupakan situs, melainkan struktur. Ini karena struktur, juga kawasan, tidak dikenal oleh masyarakat sehingga mereka menyebutnya situs.
Terdapat tiga poin penting tentang tokoh Sultan Matangaji. Pertama, Sultan Matangaji sebagai tokoh sejarah yang mendapatkan legitimasi dari keluarga keraton dan masyarakat pada masanya. Kedua, sikap Sultan Matangaji yang frontal terhadap Belanda, menjadi “akhir” bagi trah Sultan Sepuh. Ketiga, kedudukan Sultan Muda sebagai penerus Sultan Matangaji tidak begitu dicintai oleh masyarakat.
Rujukan
Atja. 1988. Menjelang Penetapan Hari Jadi Pemerintahan Kabupaten Cirebon. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Cirebon.
Hasyim, Rafan S. dkk. 2013. Serat Carub Kandha. Dinas Budaya dan Pariwisata Jawa Barat.
Kaprabon, Pangeran Hempi Raja dan Zaedin, Muhamad Mukhtar. 2018. Pustaka Asal-Usul Kasultanan Cirebon: Transliterasi dan Terjemahan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Lombard, Denys. Garden in Java. Translated by John M. Miksic. Jakarta: EFEO.
Marihandono, Djoko. “Daendels dalam Naskah dan Cerita Rakyat: Cerita yang Berkaitan dengan Daendels di Pantai Utara Jawa”. Makalah disajikan dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan di Jakarta tanggal 2―5 Oktober 2003.
Baca Juga:Polmak Kraton Kasepuhan: Sejarah Seharusnya Jadi Inspirasi Membangun Cirebon Masa KiniMencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Keenam)
Nur Arovah, Eva. 2019. “Islam di Cirebon”, dalm Islam di Karesidenan Cirebon. Yogyakarta: Penebar Media Pustaka.
