SEBAGAI tokoh penting, adalah wajar ketika seorang sultan memiliki banyak peninggalan. Bisa disejajarkan dengan Pangeran Cakrabuwana, yang memiliki banyak tinggalan (petilasan).
Satu di antara peninggalan Sultan Matangaji, menurut cerita yang beredar di lingkungan sekitar yaitu Situs Matangaji. Situs ini, konon dahulu pernah digunakan oleh Sultan Matangaji sebagai markas pasukan gerilya saat menggadapi tentara Batavia.
Uraian di atas, dikutip dari Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume (8), Issue (2), Desember 2020, berkorelasi dengan hipotesis dari Tim Balai Arkeologi Bandung, berdasarkan bukti pecahan keramik yang diketemukan di titik lokasi, tanggal 7 Maret 2020. Diperkirakan di area Situs Matangaji sudah ada aktivitas manusia sejak abad ke-17 atau abad ke-18, jauh sebelum Sultan Matangaji.
Baca Juga:Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Ketujuh)Cerita Ki Buyut Nuralim Ketika Pindahkan Batu Banteng
Konon, di sana, terdapat sebuah lorong bawah tanah yang menghubungkan Situs Matangaji dengan Gua Sunyaragi, yang mungkin keduanya sebagai bagian yang tak terpisahkan, meskipun hingga saat ini kebenarannya belum dapat dibuktikan.
Dalam Garden in Java, tentang taman-taman kerajaan di Jawa (Tasik Ardi Banten, Sunyaragi Cirebon, Taman Sari Yogyakarta, dan Taman Ujung Bali), Lombard tidak menyebutkan keterkaitan antara Gua Sunyaragi dan Situs Matangaji.
Masih menurut cerita lisan, Sultan Matangaji juga berkontribusi bagi pembangunan Gua Sunyaragi, yang proses pembangunannya bertahap, selama tiga periode. Pertama, masa Pangeran Emas Muahmmad Arifin II (Gua Pengawal, Gua Pawon, Gua Lawa, Gua Peteng, Gua Kelanggengan, dan Gua Padang Ati). Kedua, periode Pangeran Kararangan atau Pengeran Arya Carbon pada tahun 1703 (Arga Jumut, Bale Kambang dan Mande Beling). Ketiga, Sultan Matangaji (Gua Panda Kemasan, Gua Simanyang, dan Bangsal Jinem). Selain itu, peninggalan lainnya adalah sebuah pesantren di Sidawangi, Sumber, Kabupaten Cirebon, ketika Sultan Matangaji dalam “pelarian”.
Namun demikian, Situs Matangaji belum didaftar oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (DKOKP) Kota Cirebon, baik sebagai tinggalan cagar budaya maupun sebagai tinggalan yang diduga cagar budaya. Pihak Keraton Kasepuhan juga mengaku baru mengetahui keberadaan situs itu, padahal, konon, di sana ada seorang kuncen yang diberi mandat oleh Sultan Kasepuhan untuk merawat situs itu.
