Sinar matahari merupakan energi utama yang digunakan untuk proses konveksi hingga melabilkan udara dan membentuk awan-awan konvektif kumulonimbus. Kejadian puting beliung di suatu lokasi tidak akan berulang pada lokasi yang sama dalam rentang waktu yang singkat. Di beberapa daerah, puting beliung kadang disebut dengan nama angin puyuh, angin ribut, pentil munyer, dan lainnya.
Beda dengan Angin Kencang
Sama seperti tornado, puting beliung punya ciri bentuk berupa corong angin yang berputar kencang dari awan dan menjuntai ke tanah. Ciri tersebut yang membedakan dengan angin kencang yang kadang disertai badai hujan.
Menurut National Weather Service (NWS) United States, angin kencang di kala badai hujan adalah angin yang turun dari fenomena hujan badai dan menyebar dengan cepat dan kuat ketika menyentuh tanah. Angin seperti ini dapat menyebabkan kerusakan yang mirip dengan puting beliung atau tornado. Kecepatannya berkisar antara 104 sampai 117 km per jam dan kadang disalahartikan sebagai sebuah puting beliung.
Baca Juga:Pertempuran PrincetonIbu Kota Indonesia Pindah Ke Jogja
Pada tahap awal pertumbuhan awan hujan badai, ada dorongan udara yang bergerak ke atas secara kuat dan mendominasi. Awan kemudian tumbuh secara vertikal, dan tetesan hujan atau hujan es mulai terbentuk.
Saat badai mulai matang, udara yang bergerak ke atas terus memberi makan awan dengan udara lembab dan tidak stabil. Rintik hujan atau hujan es terakumulasi dan siap jatuh ke tanah. Terkadang, udara yang bergerak ke atas cukup kuat hingga menahan laju air hujan. Di sisi lain, ada aliran udara kering yang menerpa bagian tengah dan bawah badai yang membikin laju udara yang turun ke bawah makin cepat.
Udara yang turun berhembus kencang bersama dengan hujan deras melaju ini menyapu ke segala arah ketika menyentuh daratan. Inilah yang kemudian disebut sebagai fenomena angin kencang atau angin ribut. Dari kejauhan, angin kencang kadang-kadang memang terlihat mirip puting beliung atau tornado karena adanya awan menggumpal hitam. (*)
