Tornado Berskala Kecil Landa Slangit, Apa Itu Angin Puting Beliung?

D148B9E3 D101 408D A721 66125C8019AF
Penampakan angin puting beliung di Desa Slangit, Kabupaten Cirebon.
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon dilanda puting beliung, Sabtu sore hari ini, (2/1/2020) sekitar pukul 16.00 WIB.

Warga dikagetkan dengan penampakan pusaran angin yang terlihat di langit. Nampak awan gelap di sekitarnya. Keberadaan angin tersebut sempat menjadi tontonan warga sekitar.

Beberapa pohon juga tumbang karena diterjang angin kencang. Sementara kerugian akibat kejadian ini, masih dalam pendataan oleh petugas.

Baca Juga:Pertempuran PrincetonIbu Kota Indonesia Pindah Ke Jogja

Berdasarkan data sementara ada sekitar 278 rumah warga mengalami kerusakan dengan berbagai kategori daerah Terdampak Puting Beliung Desa Slangit.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, puting beliung merupakan sebutan lokal Indonesia untuk menamai tornado berskala kecil. Tornado maupun puting beliung terjadi di daratan, jika terjadi di perairan lautan maupun danau bernama water spout.

Baik puting beliung, tornado, water spout dan siklon memiliki persamaan, yaitu sebuah pusaran atmosfer. Yang membedakan adalah ukuran diameternya. Tornado, puting beliung, dan water spout berdiameter rata-rata ratusan meter, sedangkan siklon bisa mencapai ratusan kilometer. Kerusakan akibat terjangan tornado diukur dengan sebuah skala bernama Fujita Scale, dengan rentang F0 sampai F5.

Sigit Bayhu Iryanthony dalam “Pengembangan Modul Kesiapsiagaan Bencana Angin Puting Beliung untuk Mahasiswa Pendidikan Geografi UNNES” (2015) menyebut angin puting beliung sebagai angin kencang yang berputar yang keluar dari awan kumulonimbus dengan kecepatan angin lebih dari 34,8 Knot atau 64,4 km per jam) dan terjadi dalam waktu yang singkat. Hal ini terjadi akibat adanya perbedaan tekanan sangat besar dalam area skala sangat lokal yang terjadi di bawah atau di sekitar awan kumulonimbus.

Menurut Fazrul Rafsanjani Sadarang dkk berjudul “Sebaran Puting Beliung di Pulau Jawa” (2018) yang meneliti tentang karakteristik sebaran puting beliung di Pulau Jawa dari tahun 2012 sampai 2105 menguraikan, puting beliung umumnya terbentuk pada saat musim pancaroba dan musim hujan serta terjadi pada siang hingga sore hari antara pukul 12.00 WIB hingga 18.00 WIB. Kondisi tersebut diakibatkan posisi matahari yang memberi pemanasan cukup maksimal pada saat musim tersebut.

0 Komentar