Sinyal SOS Sudah Berumur 100 Tahun Lebih, Ternyata Ini Faktanya

EsLury3VkAg1WFU
Penyisiran oleh Tim SAR di Pulau Laki. (Basarnas)
0 Komentar

lg.php?bnnid=0&cgnid=0&znnid=22&loc=https%3A%2F%2Ftirto.id%2Farti sos untuk kode tanda bahaya dan sejarah penggunaannya

Perusahaan Marconi, yang menyewakan peralatan dan operator telegrafnya ke berbagai kapal laut, menggunakan kode “CQD” untuk sinyal bahaya. Sementara German Regulations for the Control of Spark Telegraphy pada tahun 1905 mengamanatkan bahwa semua operator Jerman menggunakan “… —…”.

Adanya beberapa sinyal marabahaya ini tentu bisa membingungkan. Itu berarti bahwa kapal yang mengalami kesulitan di perairan asing bisa mengalami kendala bahasa komunikasi dengan pihak calon penyelamat, bahkan jika menggunakan Kode Morse Internasional sekalipun.

Karena masalah ini, berbagai negara memutuskan untuk berkumpul dan mendiskusikan gagasan untuk menetapkan beberapa peraturan internasional untuk komunikasi radiotelegraf.

Baca Juga:Basarnas Temukan Asal Sinyal SOS? Google Hapus Tanda SOS Dekat Lokasi Jatuhnya Sriwijaya AirFenomena Waduk Gajah Mungkur, Mengenali Water Spout, Bukan Puting Beliung

Pada tahun 1906, Konvensi Telegraf Nirkabel Internasional diadakan di Berlin, dan para delegasi berusaha membuat panggilan darurat berstandar internasional. Marconi “-.-. – .– ..”, dan “……… -..-..- ..” (SSSDDD), yang diusulkan Italia di konferensi sebelumnya, dianggap terlalu rumit.

Maka, kode “… — …” (SOS) yang diusulkan oleh Jerman dianggap dapat dikirim dengan cepat dan mudah serta sulit untuk disalahartikan.

Inilah kemudian alasan sandi yang kemudian lebih dikenal dengan sinyal SOS dipilih sebagai sinyal marabahaya untuk penggunaan secara internasional, dan mulai berlaku pada 1 Juli 1908.

Penggunaan pertama SOS sebagai sinyal marabahaya terjadi lebih dari setahun kemudian, pada bulan Agustus 1909. Operator nirkabel di SS Arapahoe mengirim sinyal ketika kapal mati karena baling-baling yang rusak di lepas pantai Cape Hatteras, Karolina Utara.

Namun, tidak semua pihak setuju dengan standar baru tersebut. Perusahaan Marconi pada saat itu masih enggan menggunakan SOS karena bersikeras memakai kode “CQD” sebagai tanda bahaya.

Operator Marconi di kapal Titanic, misalnya, semula hanya mengirim sinyal CQD. Namun, setelah kapal tersebut menabrak gunung es pada 1912, operator lain menyarankan agar mereka mencoba menggunakan sinyal SOS,

Disamping sinyal SOS yang digunakan melalui sinyal radio, kapal di laut yang tengah menghadapi bahaya juga menggunakan sinyal visual dan sinyal suara. Berikut macam-macam sinyal bahaya yang digunakan secara Internasional oleh kapal laut, seperti dilansir Britannica.

  1. Sinyal visual, seperti nyala api, suar merah, sinyal asap oranye, atau bendera persegi yang ditampilkan dengan bola di bawah;
  2. Sinyal suara, seperti pistol atau roket yang ditembakkan secara berkala, atau bunyi terus menerus dari peralatan sinyal kabut; dan
  3. Sinyal radio, seperti kelompok Morse SOS, sinyal kode internasional NC, atau kata yang diucapkan “Mayday” (diucapkan seperti bahasa Prancis m’aider, “tolong saya”), oleh radiotelepon.
0 Komentar