CARUBAN NAGARI-Kawasan di sekitar gunungapi ini merupakan daerah yang relatif subur, dan di kelilingi oleh pemukiman penduduk yang padat. Gunung Ciremai merupakan gunungapi soliter dalam tatanan gunungapi aktif yang terdapat di Pulau Jawa bagian barat.
Keberadaan gunungapi ini di batasi oleh sistem sesar aktif Cilacap – Kuningan dengan arah barat laut – tenggara dan beberapa sub-sistem sesar lainnya yang mempunyai arah barat-timur dan baratlaut-tenggara adalah 112 tahun.
Berdasarkan data geologi regional, awal kegiatan volkanik G. Ciremai terjadi pada Kala Plistosen Akhir (Koolhoven 1935), atau sekitar 700.000 tahun yang lalu.
Baca Juga:Fakta ‘Uang’ dan ‘Duit’ di Indonesia, Ternyata Ini yang Harus Kamu KetahuiGempa Berkekuatan M7 Guncang Lepas Pantai Antartika
Mengutip dari Jurnal Biologi Indonesia “Kegiatan Gunungapi Ciremai Jawa Barat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan di Sekitarnya” oleh Indyo Pratomo tahun 2008, Gunung Ciremai disebut pernah erupsi dengan skala cukup besar hingga menimbulkan Tsunami di pantai Cirebon.
Hal tersebut mengacu pada laporan dari ahli kehutanan Belanda bernama Engelbert Hendrik Berend Brascamp di tahun 1919 yang menuliskan jika erupsi di abad ke-5 tersebut telah menimbulkan hancurnya sebagian dinding gunung hingga mengenai pantai di pesisir Utara dan menimbulkan gelombang yang memakan korban manusia.
“Gunung di Cirebon telah roboh yang mengakibatkan air begitu tinggi, hingga merusak tanah daerahnya dan menyebabkan korban manusia,” kata Brascamp, dalam catatan jurnalnya.
Namun laporan tersebut sempat dibantah oleh peneliti gunung api bernama Neuman van Padang, lewat catatannya di Catalogue of the active volcanoes of the World Including Solfatara Fields,v.1 Indonesia p. 138 -139. Di situ Van Padang meragukan temuan dari Brasscamp lantaran tidak ada bukti otentik.
Letusan periode berikutnya disebutkan hanya terjadi di wilayah kawah pusat. Letusan pertama terjadi pada 11 hingga 12 Agustus 1772. Menurut catatan dari Junghun 1853; 1845 dan Taverne, tahun 1926 erupsi ini tidak termasuk kategori yang parah karena hanya berada di dalam kungkungan gunung.
Namun dari aktivitas belerang di sana menimbulkan sebuah efek lubang besar dari asap Fumarol dan tekanan Solfatara yang kini dinamakan sebagai Goa Walet.
“Hembusan uap belerang dari dinding selatan. Keluar asap Fumarol secara kuat sehingga menciptakan lubang besar yang dinamakan Goa Walet”, tulis Van Gils (1917) dan Van Padang (1937) di bukunya.
