Kecelakaan Hari Ini di Pantura Tegalgubug, Jangan Lupa Sejarah Desanya Gaes

DSCF0204
Tampak dari luar Makam Ki Gede Suro. (pondokpesantrenalanwariyah.blogspot.com)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Raya Pantura Tegalgubug Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, Sabtu (30/1) pagi. Dalam kecelakaan tersebut, pengendara sepeda motor mengalami luka berat.

Identitas korban diketahui bernama Aditya Saputra (15) warga Tegalgubug. Sepeda motor yang digunakan Yamaha Mio merah nopol E 4429 LV.

Baca: Pagi Ini Kecelakaan di Jalan Pantura Tegalgubug, 1 Pengendara Motor Luka Berat Tertabrak Truk

Baca Juga:Penasaran Jalan Raya Daendels Bandung-Cirebon: Rutenya Karang Sembung-Liangjulang-Jatiraga-CirebonDana Pembayaran Proyek Alun-alun Kejaksan dan RSDGJ Dipinjam Pemkot Cirebon buat Bayar Tunggakan Listrik

Belakangan ini Jalan Raya Pantura diwarnai kecelakaan, 22 Januari lalu, sebagaimana diberitakan Tabrakan Beruntun Tegalgubug Angkot Tergencet, Begini Nasib Sopirnya.

Namun, jauh sebelumnya, Tegalgubung diyakini masyarakat berasal dari kata “Tegal” dan “Gubug” Tegal sendiri bermaksud “Tanah Cangkulan” sementara “Gubung” bermaksud rumah sederhana/ atau rumah yang dibuat ala kadarnya.

Dikutip dari berbagai sumber pendiri Desa Tegalgubug, seorang pengawal Syaikh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati adalah seorang pengawal dan panglima tinggi bernama Syaikh Muhyiddin Waliyuallah Syaikh Abdurrohman Ing Singa Sayakh syayuda atau lebih dikenal dengan Ki Gede Suropati atau Mbah Suro.

Baca: Kekinian, Wasiat Prabu Siliwangi Masih Terbukti, Simak Ulasannya

Syahdan, Kerajaan Telaga atau Kerajaan Cikijing di wilayah Majalengka dan Kerajaan Galuh atau Kerajaan Jatiwangi di wilayah Majalengka melawan Kesultanan Cirebon, Kerajaan Telaga dan Galuh dapat ditaklukan, akhirnya masyarakat Telaga memeluk Islam.

Kemudian Sunan Gunung Jati dalam penyiaran agama islam di Negeri Talaga dan Galuh mengutus beberapa orang Gegeden yang memiliki banyak ilmu dan kesaktian tingggi, untuk memberikan pengawasan terhadap tanah taklukan Kesultanan Cirebon, kerana masih ada pepatih yang masih belum memeluk Agama Islam.

Diantara Gegeden yang diutus itu adalah Syaikh Suropati atau Ki Suro. Seorang Gegeden yang terkenal sakti mandraguna yang berasal dari Negeri Arab, sumber lain mengatakan dari Mesir dan Baghdad. Yang nama aslinya yaitu Syaikh Muhyiddin Waliyullah atau Syaikh Abdurrahman, yang sudah dua tahun tinggal di keraton Cirebon, sabagai murid Sunan Gunung Jati, lalu setelah dianggap cukup ilmunya oleh Sunan Gunung Jati beliau diutus untuk membantu menyebarkan Ajaran Islam.

Lalu atas jasa dan ilmu kesaktiannya, Syaikh Muhyiddin diangkat oleh Sunan Gunung Jati menjadi pepatih unggulan / panglima tinggi (pengawal Sunan) di negeri Cirebon dengan gelar Ki Gede Suropati. Setelah pemberian gelar tersebut Kanjeng Sunan memerintahkan Ki Suro bertandak ke pondok Ki Pancawal, seorang pembesar Kerajaan Talaga untuk membawakan kitab suci Al-quran yang berjumlah banyak diperuntukan sebagai pedoman di Negeri Talaga dan Galuh.

0 Komentar