Pukul 14.40 Detik 05, Sriwijaya Air SJ182 Autopilot Tak Aktif Hidung Pesawat Naik ke Atas

Tangkapan layar Kompas TV
Tangkapan layar Kompas TV
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Sebulan sesudah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Perairan Kepulauan Seribu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan berencana menyampaikan laporan awal terkait kecelakaan tersebut hari ini.

Baca: Laporan Awal Penyebab Sriwijaya Air SJ182 Jatuh, Live Streaming Disini

Preliminary report ini merupakan ketentuan dalam aturan internasional, di mana otoritas wajib merilis laporan awal dalam waktu 30 hari setelah terjadinya kecelakaan.“Hanya data faktual saja dalam laporan awal,” kata Kepala Sub Komite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo, dalam konferensi persnya, Rabu (10/2/2021).

Berikut Laporan Awal :

Baca Juga:Laporan Awal Penyebab Sriwijaya Air SJ182 Jatuh, Live Streaming DisiniDaendels Hukum Mati Koruptor, Jokowi Berani?

  1. 9 Januari 2021 Boeing 73-500 berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dengan tujuan Bandara Supadio di Pontianak.
  2. SJ 182 diawaki 2 pilot dan 4 awak kabin bersama 56 penumpang.
  3. Setelah tinggal landas pesawat mengikuti jalur keberangkatan yang sudah ditentukan sebelumnya.
  4. Pesawat naik ketinggian 8150 kaki, tuas kiri bergerak mundur, dan putaran mesin berkurang dan mesin sebelah kanan tetap.

Pukul (14:38) detik 51 : Karena kondisi cuaca, pilot meminta ke ATC untuk belok arah 75 derajat dan diizinkan. FDR mencatat bahwa pada ketinggian 1180 kaki autopilot mulai aktif. Pesawat terus naik hingga ketinggian 8000an kaki. Namun, Perubahan arah ini, diperkirakan ATC membuat SJ 182 akan bertemu pesawat lain dari Soetta. Kedua pesawat ini memiliki tujuan sama yakni Pontianak. Karena diperkirakan berpapasan maka SJ 182 diminta berhenti naik di 11.000 kaki.Pukul (14.39) detik 47 : Pada ketinggian 10.600 kaki berada pada 46 derajat dan pesawat belok kiri, ATC meminta pilot untuk naik ke ketinggian 13.000 kaki.

Pukul (14.39) detik 57 : Pilot menjawab dan ini komunikasi terakhir.Pukul (14.40) detik 05 :  FDR merekam ketinggian tertinggi pesawat yaitu 10.900 kaki. Setelah itu pesawat turun, autopilot tak aktif dan sikap pesawat hidungnya pitchup atau naik ke atas. Pesawat mulai miring ke kiri.Pukul (14.40) detik 10 : Auto throttle tak berfungsi dan pesawat menunduk ke depan. Lalu 20 detik kemudian FDR berhenti merekam.“Dari data cuaca BMKG, menunjukkan pergerakan pesawat ini tidak melalui area awan yang signifikan dan bukan area turbulence atau awan yang menimbulkan guncangan,” kata Nurcahyo. (*)

0 Komentar