Masih Mau Merayakan? Fakta-fakta Hitam yang Jarang Diungkap di Balik Hari Valentine

lupercalia 1
Lupercalia (Ancient Rome)
0 Komentar

Selain dicambuk, ritual kesuburan juga dilakukan dengan tradisi semacam kencan buta. Para wanita yang ingin hamil akan menuliskan nama mereka dalam pecahan tanah liat lalu meletakkannya dalam semacam wadah. Kemudian, para pria akan mengambilnya secara acak. Pria dan wanita yang sama-sama asing itu pun akan berpasangan dan menghabiskan malam bersama. Sang pria bertugas mewujudkan impian sang wanita yang ingin punya bayi. Sebagian hanya memadu kasih selama perayaan. Namun, ada juga yang berpasangan hingga tahun berikutnya.

5. Ritual Seks

Lupercalia terakhir kali diadakan pada akhir abad ke-5. Saat itu, meski Kekristenan telah mengambil alih Roma, Lupercalia masih dirayakan. Namun, Paus Gelasisus mengecamnya sebagai ritual pagan bersimbah darah yang mengagungkan seks.

 The festival, called Lupercalia, saw goats and dogs slaughtered by naked priests

Sejak saat itu, Lupercalia mulai ditinggalkan dan digantikan dengan Perayaan Penyucian Santa Perawan Maria. Lambat-laun perayaan itu diperingati sebagai Hari Valentine.

Baca Juga:Ditemukan Koin Emas 425 Keping, Otoritas Israel Duga Harta Karun Zaman Dinasti Islam AbbasiyahTinggalkan Tanah Leluhur, Misi Khusus Orang Tionghoa di Pesisir Utara Jawa

Setelah lebih dari 1.500 tahun berlalu, tradisi Lupercalia berubah. Alih-alih memasukkan nama dalam wadah undian, para wanita mendapat kartu. Alih-alih mencambuk wanita, para pria memberi mereka bunga. Perubahan tradisi inilah yang digunakan untuk merayakan Hari Valentine di masa sekarang ini. (*)

0 Komentar