CARUBAN NAGARI-Tan Go Hwat berlayar meninggalkan Cina pada 1416 M bersama armada angkatan laut pimpinan Laksamana Cheng Ho menuju Kepulauan Nusantara.
Baca: Apakah Ada Walisongo Keturunan Tionghoa?
Apa yang dilakukan Tan Go Hwat di Jawa? Ia dikenal sebagai pendakwah Islam yang ternama dan amat dihormati, dikenal dengan nama Syekh Bantiong, Syekh Bentong, atau Kyai Bah Tong. Ia juga merupakan salah satu perintis terbentuknya majelis mulia di Kesultanan Demak, Walisongo.
Tan Go Hwat adalah putra Syekh Quro, ulama besar dari Indo-Cina, antara Campa (Vietnam) atau Siam (Thailand). Syekh Quro diyakini masih keturunan Nabi Muhammad dari garis Siti Fatimah dan Ali bin Abi Thalib (Dadan Wildan, Sunan Gunung Jati antara Fiksi dan Fakta: Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural, 2003: 61).
Baca Juga:Apakah Ada Walisongo Keturunan Tionghoa?Diduga dari Abad ke-7, Masjid Tertua di Dunia Ditemukan di Israel
Syekh Quro turut dalam rombongan armada Laksamana Cheng Ho ke Nusantara. Tan Go Hwat sebenarnya berperan sebagai pengiring sang ayah dalam misi khusus ini, yakni menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa.
Saat kapal berlabuh di pesisir pantai utara Karawang, Syekh Quro dan para pengiringnya, termasuk Syekh Bentong, memutuskan turun dari kapal dan singgah untuk bersyiar Islam. Kala itu, sebagian besar wilayah Jawa bagian barat masih dikuasai Kerajaan Sunda Galuh, kerajaan Hindu yang merupakan pecahan dari Tarumanegara.
Dalam Penyebaran Islam di Daerah Galuh Sampai dengan Abad ke-17 (2010) yang diterbitkan Kementerian Agama RI disebutkan bahwa Syekh Quro dan Syekh Bentong merupakan pendakwah Islam pertama di tanah Sunda (hlm. 171).
Setelah beberapa waktu lamanya menemani sang ayah berdakwah di wilayah Sunda, termasuk ikut mendirikan pondok pesantren pertama di Jawa Barat, Syekh Bentong berkeinginan meluaskan syiar ke kawasan lain. Maka itu, ia bersama keluarganya berangkat ke timur dan kemudian menetap di Gresik.
Di Gresik inilah Syekh Bentong mulai menjalin relasi dengan tokoh-tokoh awal syiar Islam lainnya. Meskipun pada perjalanan abad ke-14 itu di Jawa bagian timur masih bercokol kerajaan Hindu yang pernah sangat digdaya di seantero Nusantara: Majapahit.
Kerajaan Majapahit kala itu dipimpin Bhre Kertabumi atau Prabu Brawijaya V (1468-1478). Raja ini diyakini sebagai penguasa Majapahit terakhir sebelum berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak, demikian Dhurorudin Mashad dalam bukunya Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang, 2014: 89).
