Sebelum 20 Juli 1947, pemerintahan Republik Indonesia yang beribukota di Yogyakarta, masih mengandalkan sejumlah perkebunan negara di Jawa Barat. Namun, menjelang Agresi Militer Belanda Operasi Produk, pembakaran dilakukan para pekerja perkebunan terhadap stok produk-produk perkebunan berikut sejumlah pabrik pengolahan pada berbagai unit perkebunan Anglo-Indonesian Plantantions of Java, Ltd Subang, agar tak jatuh ke tangan Belanda.
Esok harinya, pada 21 Juli 1947, pasukan Belanda memulai Operasi Produk, untuk merebut kembali berbagai sarana perekonomian dan perhubungan yang sudah dikuasai Republik Indonesia. Untuk di Pulau Jawa, Operasi Produk di terutama dilakukan di kawasan Utara sampai ke tengah baik di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Arsip surat kabar Chicago Daily Tribunes, Amerika Serikat, terbitan Kamis 24 Juli 1947, menurunkan berita berjudul, Dutch Forces Take Cheribon, Key Java Port, dengan mengabarkan, Pelabuhan Cirebon direbut pasukan Belanda pada 23 Juli 1947.
Baca Juga:Kucing Ikut Saksikan Momen Akad Nikah, Bikin SalfokWabah Covid-19 1.000 Tahun Lalu, Ilmu Hitam Calon Arang?
Kawasan Cirebon dan sekitarnya, digambarkan sebagai pusat produksi beras, direbut tanpa perlawanan berarti oleh pihak Indonesia, pada petang hari sekitar pukul 16.30.
Disebutkan, untuk merebut Cirebon, pasukan Belanda mengerahkan 50 kendaraan lapis baja, termasuk tank, yang dikerahkan dari Bandung melalui perjalanan darat melalui lintas Tomo, Sumedang- Kadipaten- sejak Minggu, Juli 1947.
Pihak Belanda juga diketahui menempatkan sejumlah kendaraan lapis baja di Kompleks Pabrik Gula Gempol, Jalan Raya Palimanan.
Dua surat kabar terbitan Australia, pada Jumat 25 Juli 1947, The Examiner terbitan Tasmania dan Townsville Daily Bulletin yang arsipnya disimpan di Trove mengabarkan, saat pasukan Belanda sudah menguasai penguasaan Pelabuhan Cirebon pada 23 Juli 1947 tersebut, pemimpin Operasi Produk, Letjen Spoor menyebutkan, pasukan Belanda menyita 30.000 ton karet dalam gudang pelabuhan di pelabuhan yang siap dikapalkan pihak Republik Indonesia.
Walau Pelabuhan Cirebon sudah diduduki Belanda, kata berita tersebut, sejumlah perlawanan sporadis masih dilakukan pihak Republik Indonesia di kawasan dekat pelabuhan.
Pembumihangusan dilakukan pihak Indonesia terhadap sejumlah tempat, yang tak dapat dicegah pihak Belanda, termasuk sekitar 200 rumah dan toko milik orang-orang Tionghoa.
