Kowas berhasil mengungkapkan nyawa pelayaran Dewaruci dalam buku itu, kisahnya sungguh hidup. Dia tidak sekedar mencatat kebanggaan Dewaruci sebagai prestasi tengara bahari Indonesia, tetapi juga kisah romantika para pelaut muda yang membangkitkan minat insani bagi pembaca. Saya pun merasa merinding ketika terbawa rasa ketegangan dan keharuan kisahnya, kadang terbit rasa jengkel, atau tiba-tiba tergelak ketika Kowaas menggambarkan anekdot awak Dewaruci.
“Pendeknja, lautan penuh dengan segala pergumulan dan perdjuangan,” demikian Kowaas mengungkapkan gambaran pelayaran itu pada pengantar bukunya. “Pergumulan dan perdjuangan jang penuh dinamika, dialektika dan romantiknja penghidupan. Penuh keuletan, kedjantanan dan keindahan.” (*)
