Naskah Lontar Bujangga Manik, Kenapa Ada di Inggris?

Jepretan Layar 2021 03 02 pukul 20.52.59
Naskah Bujangga Manik di Bodleian Libraries Inggris
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Sudah sangat terkenal tentang kisah “Perjalanan Bujangga Manik” Namun Seperti apa penampakan naskah aslinya? Foto di atas adalah kropak penyimpanan naskah asli daun lontar “Perjalanan Bujangga Manik” dengan kode Kropak Ms Jav b3(R).

Bujangga Manik hidup dalam abad ke XV. Dalam riwayatnya banyak disebut kota Pakuan, yang sekarang merupakan kota Bogor. Dia adalah seorang Resi Hindu-Sunda. Beberapa kali dia mengadakan perjalanan jauh menjelajah pulau Jawa. Segala pengalamannya dia tulis pada Lontar, terkenal sebagai Octo-Syllabic (Berwujud butir-butir pokok sebanyak delapan (oktaf) jilid, atau sepuluh jilid.

Perjalanan Bujangga Manik merupakan salah satu naskah kuno berbahasa Sunda yang memuat kisah perjalanan seorang tokoh bernama Bujangga Manik mengelilingi Tanah Jawa dan Bali. Naskah ini ditulis pada daun nipah, dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, dan saat ini disimpan di Bodleian Library di Universitas Oxford sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 (R), cf. Noorduyn 1968:469, Ricklefs/Voorhoeve 1977:181).

Baca Juga:Teka-teki Nama Istri Pertama Prabu Siliwangi, Nhay Ambet Kasih atau Nyai RambutkasihSambil Mabuk, 230 Radikalis Yahudi Rayakan Purim Terobos Masuk Masjid Al Aqsa

Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata. Naskah berukuran 345 x 300 mm (34,5 cm x 30 cm).

Tahun 1968 diteliti oleh sarjana Belanda: Ricklefs, Voorhoeve dan Noorduyn. Kompilasi oleh Noorduyn disertai perbandingan dengan Negarakertagama, Hyang Kamanikam dan lain-lain.

Naskah Bujangga Manik diketahui sebagai koleksi Perpustakaan Bodleian, di Oxford, Inggris. Perpustakaan tersebut menerima naskah itu dari seorang saudagar dari Newport, yang bernama Andrew James. Diperkirakan bahwa naskah tersebut menjadi koleksi Perpustakaan Bodleian sejak 1627 atau 1629.

Naskah tersebut ditulis dalam bahasa Sunda Kuna pada daun lontar yang beberapa lembarannya rusak atau hilang. Isinya menuturkan perjalanan Bujangga Manik, penyair kelana dari Pakuan (di belahan utara Bogor dewasa ini) yang hidup pada abad ke-16. Sebetulnya, dia adalah pangeran dari Istana Pakuan di Cipakancilan, dengan gelar Pangeran Jaya Pakuan, tapi dia lebih suka menempuh jalan hidup asketis.

Sebagai rahib Hindu, dia berziarah menyusuri Pulau Jawa hingga Bali. Cerita ini dituturkan dalam bentuk puisi yang setiap barisnya terdiri atas delapan suku kata, yang kiranya selaras dengan bentuk puisi Sunda pada zamannya, dan panjangnya mencapai sekitar 1.758 baris.

0 Komentar