Pamanah Rasa sangat sakti dan mewarisi ilmu dan kebijaksanaan kakeknya, ia menikahi sepupunya putri Ki Gedeng Kasih (cucu Sanghyang Bunisora Suradipati – Prabu Borosngora) yang bernama Dewi Ambetkasih dan memiliki 3 orang anak, Banyak Catra (Banyak Cotro), Banyak Ngampar dan Dewi Ratna Pamekas. Karena Dewi Ambetkasih meninggal, Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi III) mengawini gadis muslim Dewi (Nyi Mas) Subanglarang.
Selanjutnya Prabu Siliwangi III menikah dengan sepupunya Kentring Manik Mayang Sunda (seperti dibahas di atas). Dari perkawinanya dengan Kentring Manik Mayang Sunda dikarunia anak lelaki bernama Banyak Blabur (Surawisesa) dan Surasowan yang menjadi adipati Banten dan anak putri Surawati yang menikah dengan adipati Sunda Kelapa.
Dalam naskah Cariosan Prabu Siliwangi, kisah Ambetkasih diceritakan panjang lebar hingga menjelang pernikahannya. Penelitian terhadap Naskah Cariosan Prabu Siliwangi dilakukan oleh Lembaga Penelitian Prancis untuk Timur Jauh (EFEO, École française d’Extrême-Orient). Hasil penelitiannya diterbitkan tahun 1983.
Baca Juga:Sambil Mabuk, 230 Radikalis Yahudi Rayakan Purim Terobos Masuk Masjid Al AqsaJokowi Cabut Prepres Investasi Miras, Doa Buya Yahya Terkabulkan
Kurun waktu yang digambarkan oleh Cariosan prabu Siliwangi adalah bagian pertama dari hidup Siliwangi ketika ia sebagai seorang putra mahkota muda berumur sembilan tahun, Pamanahrasa, putra kedua Anggalarang (Dewa Niskala) dari permaisuri Umadewi. Wajahnya bersinar, sehingga dapat dianggap sebagai jelmaan Wisnu (Pupuh I:29.6). Kakaknya adalah putra dari Selir yang bernama Astunalarang (Sang Astunawangi). Ada satu lagi anak Prabu Anggalarang (si bungsu) bernama Rangga Pupuk. Kakaknya sangat iri terhadap pamanahrasa, karena ia Putra permaisuri. Astunalarang mencoba membunuh Pamanahrasa, adiknya itu.
Kemudian Pamanahrasa diasingkan dari kerajaan dan dijualnya sebagai budak hitam dengan dibaluri ceumeung. Jika tidak dibaluri ceumeung dan kelihatan bersih serta wangi, serta memakai perhiasan kerajaan, ia tak akan dibeli orang. Seorang panakawan (pelayan) Rajaputra Astunalarang yang bernama Tandesang menganjurkan agar Pamanahrasa mengubah namanya menjadi asilih wawangi (Pupuh III: 57.7-58.2). Itu pun disetujui Pamanahrasa yang menjawab: “sebut saja saya si Siliwangi“, yaitu Si Ganti Harum dan mengubah gelang emasnya dengan gelang besi. Siliwangi atau Pamanahrasa dalam teks Cariosan Prabu Siliwangi disebut juga sebagai Rajasunu atau Rajasiwi.
