Kisah Cariosan Prabu Siliwangi berakhir di tengah percintaan Ambetkasih dan Siliwangi diambang perkawinan mereka. Ambetkasih disebut sebagai bidadari Supraba.
Teks Cariosan Prabu Siliwangi dengan demikian termasuk di tengah cyclus Babad Pajajaran, diantara akhir Prabu Anggalarang dan Putra Sulungnya, Rajaputra dengan gelar Parbamenak (di lain sumber Parbamenak adalah adik Anggalarang). Dan pengambilan kembali tahta kerajaan yang diduduki secara tidak sah. Petualangan luar biasa itu, dapat dibayangkan, pasti membantu Siliwangi di tengah legenda -telah kita ketahui dari Carita Ratu Pakuan, Kropak no 410, Museum Nasional Jakarta dan sumber Atja tahun 1970
Teks tersebut menggambarkan episode yang secara kronologis bersambung dengan akhir cerita Cariosan Prabu Siliwangi, yaitu keberangkatan keberangkatan raja Sumedang Larang dan Ratu Ngabetkasih (Ambetkasih) diikuti 31 istri, termasuk Mrajalarangtapa serta perjalanan mereka secara besar-besaran dari timur ke barat menuju ibukota Pakuan dalam sebuah iring-iringan panjang melewati setiap tempat penting untuk pemujaan Wisnu di daerah Sunda. Kejadian tersebut telah dicatat pada waktunya, di atas lontar dan hubungannya dengan prasasti Batu tulis mungkin merupakan mata rantai yang erat: keduanya mencatat zaman baru.
Baca Juga:Sambil Mabuk, 230 Radikalis Yahudi Rayakan Purim Terobos Masuk Masjid Al AqsaJokowi Cabut Prepres Investasi Miras, Doa Buya Yahya Terkabulkan
Beberapa kerajaan Sunda, yang sejak masa lampau berada di bawah kekuasaan Anggalarang, kemudian ditambah dan digabungkan di bawah bendera seorang raja pemersatu, Siliwangi, dalam tempat asal: Pakuan. Itulah sebenarnya dapat menerangkan, kemungkinan besar bahwa betapa sulitnya bilamana ingin mencocokkan secara terpaksa, silsilah-silsilah yang terdapat dalam sumber-sumber epigrafi, naskah dan cerita lisan.
Oleh karena sumber-sumber itu merupakan cabang yang berlainan mengenai beberapa turunan raja-raja yang memang terikat, karena mereka menjadi satu oleh perkawinan-perkawinan riil atau simbolik yang dilakukan oleh Siliwangi.
Adapun masa bertahta yang baru dimulai oleh Siliwangi dengan gelar Ratu Pakuan, hingga usia lanjut dengan nama Prabu Sepuh. Beliau menyerahkan tahtanya kepada putranya, sedangkan beberapa putranya dan cicitnya mulai meninggalkan agama leluhurnya. Ituah yang dilukiskan dalam bagian akhir cyclus Babad Pajajaran dengan teks seperti Babad Banten, Babad Cirebon, Babad Pasir, Carita Waruga Guru, dan Babad Walangsungsang.
