CARUBAN NAGARI-Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BNPB, Doni Monardo, mengingatkan adanya potensi bencana sesar Lembang. Masyarakat di Kabupaten Bandung Barat, diimbau waspada.
Sesar lembang adalah sebuah patahan geser aktif yang berada di Kecamatan Lembang, memanjang, hingga 29 kilometer. Berdasarkan data World Bank, Indonesia masuk kategori zona merah rawan bencana, yang tersebar di 16 kecamatan.
“Tahun 2019 lalu BNPB sudah melakukan simulasi di daerah Lembang bersama dengan gubernur Jawa Barat dan seluruh komponen di wilayah jalur patahan Lembang,” ujar Kepala BNPB, Doni Monardo, Jumat (12/3).
Baca Juga:Tanda Ramalan Sudah Tertulis Ratusan Tahun Berlalu, Penelitian Ilmiah Berusaha Ungkap Kapan Terjadinya KiamatDikenal Sebagai Gunung Cangak, Sebaran Situs Makam Petilasan di Gunung Cakrabuana
Baca: Aktivitas Sesar Lembang Dipantau Sejak 1963, Sesar Aktif di Jawa Barat
Ia mengakui, sebelumnya masyarakat tidak begitu menghiraukan anjuran pemerintah terkait kesiapsiagaan dengan memasang patok pada kawasan yang merupakan jalur sesar Lembang.
“Awalnya saat dipasang patok masyarakat sebagian keberatan. Tapi setelah ada sosialisasi yang terus menerus tanpa henti patok-patok yang tadinya ada yang dicabut sekarang terpasang lagi,” ucapnya.
Baca: Sebut Sesar Lembang Membentang 29 Kilometer ‘Tidur Nyenyak’ BMKG Ingatkan Potensi Gempa
“Sesar ini pasti akan terjadi, kapan waktunya hanya Allah yang mengetahui. Tidak ada manusia yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa,” sambungnya.
Doni menyebut, sejauh ini masyarakat sudah mulai paham terkait struktur bangunan tahan gempa. Dengan begitu, resiko terburuk yang akibat gempa dapat diminimalisir.
Baca: Gempa Dahsyat Dipicu Sesar Aktif Lembang akan Gerak Tahun 2021, Ini Kata BMKG
Baca Juga:Di Balik Kecelakaan Maut Tanjakan Cae Membentang di Punggung Gunung Cakrabuana, Warga: Lewat Jalur Ini Jangan Pakai BatikTanjakan Cae Sumedang Mistis, Sejak Dulu Warga Jarang Lewat Saat Maghrib
“Kemudian juga masyarakat sudah mulai melakukan upaya untuk mengurangi beban atap yang semula atap genteng lalu diganti dengan atap yang lebih ringan. Semua itu adalah bagian mitigasi,” katanya.
Ia menegaskan, upaya manajemen bencana harus pemerintahan daerah optimalkan, untuk mengurangi risiko korban jiwa.
“Jadi tugas kita para pejabat yang ada harus mengingatkan masyarakat. Ketika terjadi kita harus meminimalkan risiko. Tidak ada korban jiwa, kalau adapun sedikit mungkin,” katanya.
Ia mengimbau, kepada semua pihak untuk tidak panik dalam menghadapi gempa sesar Lembang ini. Lebih jauh dari itu, pemahaman tentang hal yang harus dilakukan saat terjadi bencana dimiliki masyarakat.
