“Kami masih berupaya mencari ujung dari sisi tenggara dan barat daya yang tahun kemarin belum kita temukan. Sehingga tahun ini targetnya mencari kepastian dari lebar dinding utara ke selatan,” paparnya.
Ekskavasi situs Kumitir pada tahun 2021 akan dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama 1 sampai 30 Maret dan tahap kedua pada bulan Juli dengan menggunakan anggaran dari Provinsi Jatim.
BPCB harus menyiapkan anggaran Rp 500 juta untuk proyek ekskavasi Situs Kumitir ini. Sebanyak 90 orang terlibat dalam tim ekskavasi.
Baca Juga:Samsung Galaxy Tab S6 Lite Akhirnya Mendapat Giliran untuk Pembaruan Android 11 dengan One UI 3.1Mayat Sopir Truk Warna Merah Hantui Warga, Benarkah Arwahnya Gentayangan?
“Karena masih dalam situasi pandemi, kita melibatkan tim dari Internal BPCB. Biaya kompensasi tanah per meter Rp 50 ribu. Itu masih kurang untuk biaya ekskavasinya,” kata Wicaksono.
Situs Kumitir pertama kali ditemukan warga penggali tanah untuk membuat batu bata di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Lokasinya hanya beberapa kilometer dari pusat Kerajaan Majapahit dulu di Kecamatan Trowulan.
Setelah digali pada tahun 2020 lalu, terkuak situs tersebut berupa struktur batu bata kuno setinggi 1,4 meter yang membentang dari utara ke selatan itu. Dalam perkembangannya, terungkap bahwa struktur berbentuk dinding penahan (talud) itu dibangun di atas candi pendermaan untuk Narasinghamurti, kakek dari Raden Wijaya, sang pendiri Kerajaan Majapahit.
Narasinghamurti atau Mahisa Cempaka merupakan cucu dari pendiri Kerajaan Singasari Ken Arok. Menurut catatan sejarah, Ken Arok berasal dari sebuah desa di Blitar dan kemudian merebut kerajaan Tumapel setelah membunuh penguasanya, Tunggul Ametung.
Penampakan sebagian lokasi Situs Kumitir dari atas
Wicaksono menerangkan, tembok yang baru ditemukan dan diekskavasi selama 10 hari pada akhir Oktober 2019 lalu merupakan bagian terluar dari kuil Kumêpêr. Dalam naskah kuno Kumêpêr disebutkan sebagai tanah pemakaman abu Narasinghamurti.
Naskah kuno yang dimaksud Wicaksono adalah Kitab Negarakertagama yang ditulis tokoh sastra Majapahit Mpu Prapanca; Pararaton yang memuat silsilah raja Singasari dan Majapahit ditulis pada awal abad ke-17; serta Kidung Wargasari dari Bali.
“Kumêpêr identik dengan “Kumitir” ini,” ujar Wicaksono.
Pada September 2020 lalu, hasil ekskavasi membuahkan hipotesa kuat lainnya. Yakni situs di areal seluas enam hektare itu bukan hanya candi pendermaan, tetapi juga istana Raja (Bhre) Wengker, Kudamerta.
