Menelusuri ‘Jalan Tol’ Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi

Jalan Wanayasa
Jalan dari Wanayasa ke Bandung Tahun 1920-1935 (Foto: Tropenmuseum)
0 Komentar

Pengendalian banjir telah dilakukan jauh sebelum kerajaan Pajajaran ada yaitu di zaman Tarumanagara dengan memperbaiki sungai di zaman Maharaja Purnawarman. Talaga (wa)rena Mahawijaya mengatur aliran air sungai Cipaku dan Sungai Cisadane. Mengacu pada pembagian klasifikasi lahan dalam Warugan Lmah, Talaga (wa)Rena Mahawijaya berada pada posisi Sri Madayung, karena letaknya yang berada di antara dua aliran sungai, yaitu Sungai Cipaku (sungai kecil) dan Sungai Cisadane (sungai besar).

Pengelolaan dan pemanfaatan daerah aliran sungai harus dilakukan dengan pendekatan yang terpadu, yang mensinergikan pengelolaan/pemanfaatan lahan di kawasan dataran tinggi dengan perencanaan pemanfaatan tata guna lahan yang ‘ekologis’, dengan penerapan ilmu rekayasa, dan pertimbangan aliran air yang mengikuti lereng dari dataran tinggi ke dataran rendah. Proses yang terpadu tersebut adalah sebagai langkah yang tepat, karena menempatkan lingkungan alam sebagai subjek, karena bagaimanapun kekuatan alam sampai kapanpun tidak akan bisa dilawan.

Talaga (wa)Rena Mahawijaya yang sampai saat ini dipercaya sebagai tempat ritual keagamaan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan fungsi yang dibayangkan dan menjadi harapan oleh arsiteknya. Dari perspektif ilmu rekayasa (teknik lingkungan, arsitektur lansekap, dan teknik sipil pengairan), danau buatan (embung/waduk) ini bisa menjadi area tangkapan limpasan air demi meredam bencana banjir, bahkan sebagai cadangan air ketika musim kemarau, sebagai area rekreasi alam, dan fungsi lainnya sesuai dengan perspektif apa yang kita pakai untuk melihatnya.

Baca Juga:Awal Mula Heboh Warga Tuban Mendadak Kaya, dari Uang Rp17 Miliar sisa Rp50 JutaSempat Menimpa 5 Rumah Warga, Pohon Tumbang Bisa Berdiri Lagi, 1 Orang Meninggal Dunia

Apa yang telah dilakukan oleh Sri Baduga sangat penting untuk direnungkan terutama oleh para pemegang kekuasaan dan pembuat kebijakan. Karena bagi para pemimpin penting untuk berpikir secara luas dan out of the box serta belajar dari sejarah para pemimpin di masa lalu.

Bagian lain yang sangat penting dalam pembangunan infrastruktur zaman Pajajaran, adalah tentang jalan raya. Kita sering mengabaikan sejarah secara teknik bahwa kisah perpindahan dengan iring-iringan besar keluarga kerajaan dari Istana Surawisesa di Kawali Galuh menuju Pakuan Pajajaran dilakukan melalui apa? Tentu adanya sebuah jalan. Jalan ini menurut Amir Sutaarga adalah “Pajajaran Highway” atau jalan tol-nya zaman Pajajaran. Prasasti Batu Tulis Bogor sedikit menyebutkan proyek pengerasan jalan. 

0 Komentar