Menelusuri ‘Jalan Tol’ Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi

Jalan Wanayasa
Jalan dari Wanayasa ke Bandung Tahun 1920-1935 (Foto: Tropenmuseum)
0 Komentar

Sutaarga menyebutkan bahwa rute Highway Pajajaran adalah: Kawali – Talaga – Karangsambung – Tomo – Cisalak – Jalancagak – Sagalahérang – Wanayasa – Cikao – Tanjungpura – Warunggedé – Cibarusah – Cileungsi – Pakuan. Jika dilihat petanya di zaman sekarang ini melewati Kabupatén Ciamis, Majalengka, Sumedang, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, dan Bogor. Jika kita sekarang malukan napak tilas, matak capé atuh

Kerajaan Pajajaran memiliki 6 Pelabuhan Utama untuk mendukung pereknomian negara. Tentu saja buka hanya pelabuhan yang dimiliki, Kerajaan Sunda Pajajaran juga memiliki armada kapalnya sendiri. Ibarat kita punya garasi mobil, juga idelnya memiliki mobil untuk diparkirkan di garasi itu. Kapal Besar milik Kerajaan Sunda Pajajaran yaitu Kapal Jung tingkat sembilan yang dalam bahasa Jawa disebut “Jung Sasanga Wagunan ring Tatarnagari tiniru” – Kapal Jung bertingkat sembilan. Sebelum tragedi Bubat tahun 1357, Raja Sunda dan keluarganya datang di Majapahit setelah berlayar di laut Jawa menggunakan kapal-kapal joung hibrida Cina-Asia tenggara bertingkat sembilan (Bahasa Jawa kuno:Jong Sasanga Wagunan ring Tatarnagari tiniru).Kapal Jung milik Kerajaan Sunda Pajajaran adalah kapal hibrida yakni mencampurkan teknik China dalam pembuatannya, yaitu menggunakan paku besi selain menggunakan pasak kayu dan juga pembuatan buritan tumpul/datar (transom stern).Niccolò da Conti dalam perjalanannya di Asia tahun 1419-1444, mendeskripsikan kapal yang jauh lebih besar dari kapal Eropa, yang mampu mencapai berat 2.000 ton, dengan lima layar dan tiang. Bagian bawah dibangun dengan tiga lapis papan, untuk menahan kekuatan badai. Kapal tersebut dibangun dengan kompartemen, sehingga jika satu bagian hancur, bagian lainnya tetap utuh untuk menyelesaikan pelayaran.

Di Bidang Keagamaan dan Politik pun, di zaman Prabu Siliwangi dikenal sangat stabil dan berimbang yang disebut Pajajar-Pajajaran. Menyatunya Sub-etnis Galuh dan Sunda dengan identitas sebagai Warga Sunda (sebagai entitas politik kerajaan) dan penerimaan yang baik serta pelindungan terhadap para pengungsi Majapahit pimpinan Raden Baribin di Kawali Galuh. Tidak ada etnis tertentu atau agama tertentu yang dibedakan. Karena sejatinya Tatar Pasundan, sejak lama telah dihuni berbagai etnis. (*)

0 Komentar