CARUBAN NAGARI-Seorang Maharaja Sunda santer terkenal Sri Baduga Maharaja sebagai Prabu Siliwangi, tentu dikenang atas jasa besarnya yang berpengaruh bagi rakyat Tatar Pasundan. Jasa itu dirasakan oleh seluruh rakyatnya sebagai sebuah warisan (legacy). Sebelum kemerosotan kepemimpinan raja-raja berikutnya hingga burak tahun 1579 M. Kita telusuri apa saja mahakarya Prabu Siliwangi untuk negeri Sunda Pajajaran?
Pada saat Sri Baduga Maharaja berkuasa (1482-1521 Masehi), dilakukan rekonstruksi tata kota di Pakwan Pajajaran dengan membuat parit untuk memperkuat keamanan. Hal ini dilakukan karena tempat ini dijadikan sebagai pusat politik untuk seluruh Tatar Sunda, yang awalnya berada di kompleks Keraton Surawisesa (Galuh Pakwan), demikian diungkap Lubis, Nina Herlina et al. 2003, Sejarah Tatar Sunda”. Jilid I. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.
Posisi Pakuan Pajajaran sebagai ibukota yang dipilih harus memiliki kelebihan dari sisi pertahanan dan keamanan yang sangat urgent saat itu pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda juga banyak menerima pengungsi para pejabat, keluarga bangsawan dan rakyat Majapahit yang meminta perlindungan.
Baca Juga:Awal Mula Heboh Warga Tuban Mendadak Kaya, dari Uang Rp17 Miliar sisa Rp50 JutaSempat Menimpa 5 Rumah Warga, Pohon Tumbang Bisa Berdiri Lagi, 1 Orang Meninggal Dunia
Kota Pakwan Pajajaran selain dari prasasti dan naskah, terdapat di dalam laporan para penjelajah VOC, yaitu Scipio tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690, dan Abraham van Rieebeck tahun 1703, 1704, dan 1709.
Dikutip dari Darsa, Undang A. dan Edi S. Ekadjati. 2003. Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan, dalam Tulak Bala; Sistim Pertahanan Tradisional Masyarakat Sunda dan Kajian lainnya megenai Budaya Sunda. Bandung: Pusat Studi Sunda, prasasti Batutulis menceritakan bahwa Sri Baduga memperbaiki kota dan memperkokoh pertahanan dengan membuat parit, serta membangun sebuah telaga yang disebut Talaga (Wa)Rena Mahawijaya atau Sanghiyang Rancamaya, lengkap dengan sebuah pulau di tengah danau yang bernama Bukit BadigulÂ
Talaga (Wa)Rena Mahawijaya merupakan tempat suci yang dikeramatkan, telaga yang di tengahnya terdapat Bukit Badigul sebagai tempat menyatakan rasa syukur (berdoa). Pada saat sekarang tempat ini sudah berubah menjadi perumahan elit dan lapangan golf demikian diungkap Lubis, Nina Herlina et al. 2003, Sejarah Tatar Sunda”. Jilid I. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. Selain itu Talaga (Wa)rena Mahawija berfungsi sebagai pengendali bencana banjir yang terjadi di wilayah hilir yaitu Sunda Kalapa (Jakarta sekarang).
