Bataviaasch Genootschap mengakuisisi naskah ini pada bulan September tahun 1866 dari R.A.A. Kusumahdiningrat, Bupati Galuh (sekarang Ciamis) yang menjabat pada kurun waktu 1839-1886, bersama sekitar duapuluhan naskah Sunda lain berbahan daun lontar, bambu, dan daluang. Naskah daun lontar dan bambu saat ini tersimpan dengan nomor 406-426, sedangkan naskah daluang bernomor KBG 73-76.4 Menarik untuk dicatat bahwa salah satu teks di antaranya mengandung Silsilah Panjalu. Panjalu termasuk dalam wilayah Galuh pada waktu bupati R.A.A. Kusumahdiningrat menjabat.
Naskah 1101 tersimpan di Perpustakaan Nasional dalam sebuah laci bernomor 68. Naskah sudah dideskripsikan sebelumnya oleh Behrend (1998:369) dan lebih mutakhir oleh Munawar Holil dan Aditia Gunawan (2010:144). Naskah ditulis pada lempiran lontar yang berukuran 19,5 cm x 2,7 cm, terbungkus kotak kayu (kropak) berwarna hitam.
Diduga berasal dari abad ke-15. Menurut de Casparis, jenis aksara ini mungkin merupakan perkembangan langsung dari Kawi awal (de Casparis 1975:56).
Silsilah Panjalu
Punika hanak putu Ratu Pajajaran.Putra Prebu Siliwangitumiba hing Panjalu.
Baca Juga:Tanpa Sengaja Lewat Rumah Tetangga Bertemu Perempuan Berjilbab Duduk Ternyata Baru Sadar Meninggal 7 Hari LaluMistisnya Kampung Pitu yang Hanya Ditinggali 7 Keluarga, Warganet: Jika Kurang 7 Anak Keturunannya Bikin KK Baru
- Susuhunan Reuntas Kikis,
- puputra Daleum Ageung.
- Daleum Ageung puputra Wisagati,
- Wisagati puputra Singagati,
- Singagati puputra Singakreti,
- Singakreti puputra Hisa Déwata,
- Hisa Déwata puputra Borosngora,
- Borosngora puputra Ariya Wiranata,
- Ariya Wiranata puputra Ariya Wiraba/ya, /26r/
- Ariya Wirabaya puputra Dipanata,
- Dipanata puputra Wirabaya.
Berdasarkan naskah Lontar di atas (1101), nampak berbeda dengan naskah Babad Panjalu. Dalam naskah lontar ini, Borosngora putra Hisa Dewata. Sementara dalam babad Panjalu, Borosngora putra Prabu Cakradewa. Apakah Hisa Dewata sama dengan Cakradewa? (*)
