CARUBAN NAGARI-Naskah ini dapat diakses di khastara Perpusatakaan Nasional Republik Indonesia. Naskah turunan zaman Brandes (sekitar tahun 1890 an) menyalin dari babon yang diperoleh di Batavia. Berisi Silsilah Nabi Adam sampai Ratu Sedalarang. Naskah diberi kode BR 53.
Menurut Katalogus Kitab Babad (1973: 71), naskah ini berisi teks prosa tentang ‘silsilah, dimulai dari Nabi Adam berputera turun temurun sampai Ratu Sedalarang. Ratu Sedalarang berputera Prabu Cakradewa, Prabu Cakradewa berputera Ratu Sedawati. Ratu Sedawati berputera Adipati di Kuningan.’
Awal teks :
Punika puwening jagat, kang gumelar tek kala durung,…
Akhir teks:
Cakra dewa puputra ratu sedhadati puputra,
Penomoran halaman asli, berangka Arab 1-19. Nomor halaman i-ii tambahan orang lain. Tulisan naskah masih jelas terbaca. Prosa 17 baris/hlm. Naskah diperoleh di Batavia (h.i), tetapi sekarang tidak diketahui. Judul naskah yang ada berupa catatan peneliti Belanda, berbunyi Sadjarah von West-Java; diberi judul baru berbahasa Jawa, Sajarahing Pasundan.
Baca Juga:Tanpa Sengaja Lewat Rumah Tetangga Bertemu Perempuan Berjilbab Duduk Ternyata Baru Sadar Meninggal 7 Hari LaluMistisnya Kampung Pitu yang Hanya Ditinggali 7 Keluarga, Warganet: Jika Kurang 7 Anak Keturunannya Bikin KK Baru
Pengaitan silsilah yang sampai jauh hingga nabi Adam AS merupakan fenomena umum di masa pengaruh Mataram Islam di tanah Pasundan. Meskipun sulit dibuktikan, tentu hal ini terkait dengan keyakinan keagamaan. Jika di zaman klasik Hindu-Buddha, para penguasa mengaitkannya dengan para dewa, sedangkan di zaman Islam, pengaitan ke nabi-nabi.
Rupanya naskah ini dapat digunakan sebagai pelengkap Babad Panjalu (BP). Babad Panjalu merupakan salah satu karya sastra kuno yang mengandung unsur sajarah yang ditulis oleh Prajadinata, koleksi C.M. Pleyte (peti 121). BP sudah diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta. Sesuai dengan namanya, BP berasal dari daerah Panjalu, kabupaten Ciamis (priangan). Melihat berasal dari priangan, dengan demikian BP memiliki ciri historiografi priangan yaitu berisikan silsilah raja-raja atau para bupati.
Babad Panjalu memulai tokoh dari Prabu Borosngora. Sedangkan Naskah Sajarahing Pasundan silsilah sejak Nabi Adam hingga ketemu tokoh yang beririsan dengan babad Panjalu yaitu Prabu Borosngora putra Prabu Cakradewa.
Struktur cerita yang ada dalam BP mencakup tema, fakta carita (galur, pelaku dan watak, dan latar), dan sarana sastra. Tema suatu cerita tidak dapat diceritakan secara langsung tetapi secara implisit melalui isi cerita secara utuh. Akan tetapi tema dalam BP secara langsung sudah dapat diketahui dari penamaan cerita menggunakan nama babad. Dengan adanya inisial babad, umumnya cerita langsung terpusat pada cerita sejarah masa lalu. Begitu juga tema yang terdapat dalam BP yaitu tema sejarah. Di samping tema sejarah sebagai tema pokok, diketemukan juga subtema pendidikan. Subtema pendidikan terdapat pada pelaku bupati Panjalu dalam usaha mendidik para putranya agar menjadi manusia yang baik sehingga selamat di dunia dan akhirat.Mengenai alur atau jalan cerita yang terdapat dalam BP menggunakan alur maju “mérélé”. Hal tersebut dapat dilihat pada episode II samapai dengan episode XXV. Sedangkan episode I dan episode XXVI merupakan permohonan maaf pengarang atas apa yang ditulisnya kepada pembaca. Alur dimulai dengan menceritakan pemerintahan Prabu Borosngora (bupati ke-1). Prabu Borosngora memerintah sebagai bupati Panjalu. Selanjutnya Prabu Borosngora sekeluarga pindah ke Jampang (épisode II nepi ka IV).Radén Arya Kuning (bupati ke-2) memerintah jadi bupati Panjalu menggantikan orang tuanya. Terjadi perselisihan antara kakak beradik (épisode V nepi ka VII). Perselisihan dapat didamaikan setelah Raden Kampuh Jaya sebagai perwakilan Prabu Borosngora datang ke Panjalu. R. Kampuh Jaya menyelesaikan perseteruan kakak beradik dengan arif dan bijaksana. Putra yang unggul dalam perkelahian itu dijadikan bupati di Panjalu, yaitu R.A. Kancana. Selanjutnya R.A. Kuning dibawa ke Jampang oleh R. Kampuh Jaya (épisode VIII).Pemerintahan Panjalu dipegang oleh R. Arya Kancana (bupati ke-3) yang terdapat pada episode IX. Sebagai patihnya yaitu Raden Kampuh Jaya yang berganti nama menjadi R. Guru Haji (episode X dan XII). Pada masa pemerintahan R. Arya Kancana, daerah Panjalu semakin makmur dan sejahtera. Selama memerintah, R. Arya Kancana memiliki banyak anak, salah seorangnya bernama Sanghyang Teko. Raden Arya Kancana pensiun dari jabatannya dan digantikan oleh putranya yang pertama, Sanghyang Teko (episode XIII).Alur selanjutnya, pemerintahan Sanghyang Teko (bupati ke-4). Sanghyang Teko memiliki dua orang putra, Raden Dulang Kancana dan Raden Kadaliru. Dikarenakan Sanghyang Teko wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh putranya yang pertama, R. Dulang Kancana (episode XIV).Raden Dulang Kancana (bupati ke-5) memerintah di Panjalu menggantikan orang tuanya. Raden Dulang Kancana tidak lama menjabat sebagai bupati Panjalu dikarenakan meninggal. Selama memerintah R. Dulang Kancana tidak diceritakan memiliki putra. Dengan demikian pemerintahan dilanjutkan oleh adiknya, Raden Kadaliru (episode XV). Raden Kadaliru (bupati ke-6) memiliki putra Raden Martabaya. Dikisahkan Raden Kadaliru wafat, lalu jabatan bupati Panjalu dilanjutkan oleh anaknya, Raden Martabaya (episode XVI).Raden Martabaya (bupati ke-7) menjabat bupati Panjalu menggantikan orang tuanya, Raden Kadaliru. Raden Martabaya memiliki putra yang bernama Raden Arya Natibaya. Dikarenakan Raden Martabaya wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh putranya, Raden Arya Natibaya (episode XVII).Raden Arya Natibaya (bupati ke-8) sebagai bupati Panjalu melanjutkan orang tuanya. Raden Arya Natibaya mempunyai dua orang putra, Dalem Sumalah dan Radén Arya Sacanata. Dikarenakan Raden Arya Natibaya wafat, pemerintahan dijabat oleh anaknya yang pertama, Dalem Sumalah (episode XVIII). Dalem Sumalah (bupati ke-9) mempunyai putra yang masih kecil, Raden Wirabaya. Pemerintahan Dalem Sumalah tidak begitu lama dikarenakan meninggal dunia. Selanjutnya pemerintahan dijabat oleh adiknya Dalem Sumalah, Raden Arya Sacanata (episode XIX).Raden Arya Sacanata (bupati ke-10) pada saat menjabat bupati Panjalu terbilang sudah agak tua “sepuh”. Raden Arya Sacanata memiliki anak yang masih kecil, Raden Wiradipa. Karena sudah merasa tua, pemerintahan diserahkan kepada anak kakanya, Raden Wirabaya (putra Dalem Sumalah). Pada episode XX dijelaskan bahwa Raden Wiradipa, putranya Raden Arya Sacanata dipelihara oleh Raden Wirabaya yang menjabat bupati saat itu.
