CARUBAN NAGARI-Mendengar nama Putri Duyung, kita pasti langsung teringat pada sosok makhluk mitologi yang tinggal di bawah laut berupa manusia bertubuh ikan. Meski sosok Putri Duyung dianggap mitos dan dongeng semata. Namun, beberapa orang meyakini bahwa makhluk satu ini benar-benar nyata.
Banyak versi yang menggambarkan sosok Putri Duyung. Ada yang menggambarkan sebagai putri cantik yang separuh tubuhnya adalah ikan, ada pula yang melukiskan putri duyung dengan wujud yang buruk rupa dengan sifat pengganggu.
Mitologi Yunani bahkan menyebutkan jika putri duyung kerap menjadi cobaan berat bagi para pelaut. Terutama mereka yang lalai. Siapa yang tergoda, ia akan menemui ajalnya.
Baca Juga:Sudah Vaksinasi Tetap Positif Covid-19, Vaksin Tidak Efektif?Pria Ini Meninggal Saat Salat Jumat
Namun, bagaimanakah pandangan Islam berkaitan dengan Putri Duyung ini. Mulai dari keberadaanya, wujud, rupa, bahkan hukum menikahi dan memakannya. Berikut penjelasannya yang berhasil dirangkum carubannagari.radarcirebon.com, dari berbagai sumber.
Ternyata putri duyung memiliki sebutan yang berbeda di tiap tempat. Di Afrika Barat dan Tengah, Putri Duyung memiliki sebutan Mami Wata. Lain lagi jika di Negara Rusia dan ukraina mereka memiliki sebutan Russalki (Rusalka) dan disebut Merrow jika di Irlandia.
Sedangkan dalam Kitab Ajwibah Az-Zarqani disebut dengan Admiyatul Bahr atau manusia laut. Dalam kitab Hasyiyah Al-Bujairimi disebut dengan Banaatul Ruum.
Sedangkan dalam kitab Hayah Al-Hayawaan disebut dengan Insanul Ma’ serta Syaikul Bahr untuk yang jantan. Sementara itu, Syaikh Fauzan menyebutnya Hurriyyah al-bahr atau peri laut.
Dalam Islam dijelaskan jika ciri fisik putri duyung itu persis seperti yang digambarkan dalam animasi-animasi. Ia berwajah cantik dengan wujud setengah manusia dan setengahnya lagi berwujud ikan. Hal itu diterangkan dalam kitab Hasyiyah Al-Bujairimi jilid 4 halaman 230.
“Banaat Ar-Ruum adalah ikan di laut yang menyerupai wanita. Dia memiliki rambut yang terurai panjang. Warnanya condong ke cokelat-cokelatan, memiliki farj (kemaluan) dan payudara. Dapat berbicara namun tidak dapat dipahami, mereka tertawa dan terbahak-bahak. Terkadang ikan ini tertangkap oleh para pelaut kemudian dinikahi dan dikembalikan lagi ke laut.” (Tuhfah Al-Habib ‘Alaa Syarh Al-Khatiib (4/325).
