Napak Tilas Mudik, Salah Satunya Kolom Harian Kedaulatan Rakjat Disewakan Bagi Pembaca

large dc8nhu2waaaxcsr 712ed2ae9fd3d9e9ba291bd266cfbd7d
Mudik IST)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Masih dalam suasana bulan Syawal, ada yang sedikit berbeda dari perayaan lebaran tahun ini. Tentu saja tidak lain ialah karena kondisi global terkait penyebaran pandemi Covid-19 yang mulai mewabah di Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu.

Hal ini mengakibatkan adanya aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai daerah. Salah satu dampak dari pembatasan ini ialah perantau dilarang mudik ke daerah asal seperti sebelum-sebelumnya. Keputusan tersebut menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, mengingat mudik adalah salah satu tradisi terbesar yang paling dinanti.

Sebenarnya, kondisi ini bukan merupakan hal yang baru. Menilik sejarah pada masa awal pasca kemerdekaan, para umat Islam Indonesia juga pernah terhalang mudik ke kampung halamannya. Hal ini dikarenakan kondisi politik yang sedang tidak stabil, yakni masih adanya kontak senjata antara pejuang Republik dengan Belanda yang berlangsung di berbagai tempat. Selain itu, transportasi yang belum memadai juga menjadi halangan.

Baca Juga:Larangan Mudik, Ketika Pertempuran Antara Republik dengan Inggris di Cibeber dan Merebut Irian BaratAbaikan Prokes di Pasar Jelang Idul Fitri, Epidemiolog: Bawa Pulang Baju Lebaran Sekaligus Virus Corona

Pada waktu itu, harian Kedaulatan Rakjat punya cara untuk memberi kesempatan bagi umat Islam secara mudah dan praktis menyapa keluarga atau koleganya di hari lebaran tanpa perlu mudik secara fisik. Caranya ialah dengan menyewakan kolom yang bisa diisi pembacanya dengan ucapan Selamat Hari Raya.

Ucapan selamat lebaran di kolom tersebutlah yang melakukan “mudik”. Kolom ini menjadi sangat populer karena mencapai hampir setengah halaman pada satu hari menjelang lebaran dan pemuatannya masih berlanjut hingga beberapa hari setelah lebaran. Tahun 1960-an, anjuran untuk tidak mudik juga kembali digaungkan mengingat pentingnya perjuangan pembebasan wilayah Irian Barat.

Mudik dan lebaran merupakan dua kata yang identik dengan Hari Raya Idul Fitri. Jika dilihat lebih jauh, sebenarnya bagaimanakah awal mula tradisi tersebut? Kira-kira, sejak kapan tradisi mudik lebaran ada di Indonesia? Berikut sekilas penjelasannya yang disadur dari berbagai sumber.

Menurut seorang Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurna, tradisi mudik ini sudah ada sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam.

Sejarah bermula ketika kekuasaan Majapahit sangat luas hingga menyebar ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Luasnya kekuasaan inilah yang menyebabkan Sang Raja menempatkan para pejabatnya di berbagai daerah untuk menjaga wilayah kekuasaan.

0 Komentar