Kubah Emas Sering Dikira Masjid Al-Aqsha, Sesungguhnya Ini Warna Kubahnya

Baitul Maqdis 2 kubah emad
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Saat ini ini semua mata tertuju ke Masjid Al-Aqsha menyusul meningkatnya agresi Israel ke Palestina. Ada yang menarik untuk diulas terkait keberadaan Masjid Al-Aqsha Yerusalem, Palestina. Banyak yang mengira Masjid berkubah emas itu adalah Masjidil Al-Aqsha.

Padahal itu anggapan keliru. Sebagaimana diketahui Kompleks Masjidil Aqsha memliki luas keseluruhan 144.000 meter yang disebut Al-Haram Ash-Sharif (tempat suci yang mulia) atau Temple Mount. Tempat ini merupakan tempat suci ketiga umat Islam setelah Makkah dan Madinah.

Masjid Al-Aqsha merupakan masjid terpenting yang berada di areal kompleks Al-Aqsha. Luas bangunan 35.000 meter persegi, sehingga dapat menampung 5.000 jamaah. Sebenarnya di dalam kompleks Al-Aqsha ini banyak masjid dan situs-situs bersejarah dan di kawasan ini juag terdapat makam para Nabi.

Masjid Kubah Emas

Baca Juga:Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara Ungkap Riwayat Syekh Lemah AbangMelacak Keturunan Pangeran Walangsungsang

Masjid Kubah Emas disebut Qubbah Sakhrah atau Dome of The Rock. Sebuah bangunan masjid yang terletak di tengah-tengah kompleks Masjid Al-Aqsa, Kota Yerusalem. Masjid ini juga disebut dengan Masjid Umar.Masjid berkubah pertama ini didirikan oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan antara Tahun 685-691. Adapun Masjid Jami’ Al-Aqsha adalah masjid berkubah biru yang terletak di Selatan kompleks Al-Aqsha.

Kubah Shakhrah ini selesai didirikan tahun 691 Masehi, menjadikannya bangunan Islam tertua yang masih ada di dunia dan masjid pertama memiliki Kubah. Di dalam kubah ini terdapat batu Ash-Shakhrah yang menjadi tempat suci bagi umat Islam dan Yahudi.

Bangunan awal dari Kubah Shakhrah sebenarnya adalah kubah terbuka tanpa dinding. Pada masa Abbasiyah mulai dibangun dinding penutup. Bangunan ini mengalami kerusakan pada gempa bumi tahun 808 dan 816.

Menurut beberapa ulama dihimpun dari berbagai sumber, batu yang berada dalam naungan Kubah Shakhrah disebut sebagai tempat pijakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika naik ke langit saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Literatur lain menyebutkan tempat pijakan tersebut berada di Masjid Al-Qibli.

Saat Sayyidina Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu diberi usulan oleh sahabat Ka’ab untuk membangun masjid di sebelah utara Batu Fondasi agar dapat menghadap ke arah Ka’bah dan batu tersebut secara bersamaan saat sholat, Umar justru menanggapi bahwa perbuatan itu menyerupai Yahudi.

0 Komentar