Kedatangan Orang-Orang Yahudi di Indonesia Sejak 1920

38723105 303
Bangunan beratap merah di kota kecil Tondano, sekitar 35 kilometer dari Manado, adalah satu-satunya sinagoga di Indonesia
0 Komentar

Profesor Rotem Kowner dari Haifa University pernah meneliti sejarah kedatangan orang Yahudi di Indonesia. Ia menyebut, semula orang-orang Yahudi menginjakkan kaki di Sumatera dan Jawa. Pada awal abad ke-9, misalnya, Ishaq, seorang Yahudi dari Oman, melakukan perjalanan ke Sumatera. Ada pula pedagang Yahudi pada 1290 dari Futsat, Mesir, yang tinggal di Kota Barus, sebuah pelabuhan tertua di Sumatera Utara. Mereka datang melalui jalur perdagangan.

Sedangkan Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta (1982) menyebutkan, selain melalui jalur perdagangan, orang-orang Yahudi berdatangan ketika ekspedisi bangsa Portugis ke Nusantara pada 1511. Ekspedisi itu dipimpin Alfonso de l’Albuquerque dan berhasil menaklukan Malaka. Setelah Malaka takluk, dua tahun kemudian, empat kapal berisi rombongan orang-orang Portugis datang ke daerah tersebut. Di antara rombongan dalam kapal Portugis itu ada orang-orang Yahudi beragama Kristen atau dikenal sebagai Marrano.

Koloni dagang Portugis itu tak berlangsung lama, berpindah ke tangan Belanda melalui Verenidge Oost-Indische Compagnie (VOC) dan WestIndisch Compagnie (WIC) pada 1619. Perusahaan dagang itu dibiayai langsung oleh orang-orang Yahudi yang mengungsi dari Portugal dan Spanyol pada 1600-an.

Baca Juga:Ini Bedanya Yahudi, Israel dan ZionisSiapa Sosok Ratu Sindang Kasih Majalengka, Nyai Ratu Rambut Kasih

Keberadaan orang-orang Yahudi di Nusantara dicatat juga oleh Jacob Saphir, seorang penulis yang mengunjungi Nusantara sekitar tujuh minggu dalam perjalanannya menuju Australia pada 1861. Seperti ditulis oleh Jeffrey Hadler dalam “Translation of Antisemitism: Jews, The Chinese, and Violence in Colonial and Post-Colonial Indonesia” (2004), Saphir melaporkan soal kedatangan orang-orang Yahudi-Eropa ke Batavia, Semarang, dan Surabaya. Menurut Saphir, orang-orang Yahudi kala itu tak hanya menikahi sesama Yahudi, tapi juga menikah dengan warga negara Belanda dan gadis bumiputera.

Saphir mencatat dengan baik Yahudi-Eropa yang datang ke Nusantara, tetapi kurang rapi mencatat orang-orang Yahudi-Asia, yakni mereka yang berasal dari Irak dan bermukim di Surabaya, Jawa Timur.

Jejak peninggalan orang Yahudi-Eropa di Jakarta pada masa kolonial masih ada hingga kini, yakni Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada. Gedung ini dulunya kediaman saudagar Yahudi dan mantan serdadu Belanda bernama Lendeert Miero alias Juda Leo Ezekiel. Selain menjadi saudagar, Miero pernah menjadi tuan tanah di Pondok Gede, Bekasi. Nama Pondok Gede pun diambil dari rumah gedong yang dibeli Miro dari Johannes Hooyman, sekitar 1775. Kini bekas kediaman dan makam Miro tak lagi tampak, berganti pusat perbelanjaan pada 1992.

0 Komentar