CARUBAN NAGARI-Keturunan Yahudi di Indonesia tak cuma berdarah campuran Indonesia-Belanda, tetapi ada juga berasal dari Timur Tengah seperti dari Bagdad, Irak. Mereka berkewarganegaraan Indonesia dan hidup di tengah masyarakat di sejumlah kota di Indonesia. Di antaranya ada yang terang-terangan membuka diri, ada juga yang menutup identitas karena sentimen kebencian anti-Yahudi. Sentimen ini makin menguat ketika perang antara Israel dan Palestina berkecamuk di Jalur Gaza.
Keberadaan keturunan Yahudi di Indonesia tergabung dalam sebuah komunitas bukanlah hal baru. Ini telah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Komunitas Yahudi mulai muncul pada 1920-an seiring terbentuknya The Association for Jewish Interests in the Dutch East Indies dan the World Zionist Conference (WZC). Organisasi ini memiliki cabang di Batavia, Bandung, Malang, Medan, Padang, Semarang, dan Yogyakarta.
Konferensi Zionis Sedunia berpusat di London pada 1920, Ia organisasi pencari dana bagi gerakan Zionis. Pada 1926, muncul majalah bulanan Eretz Israel yang terbit di Padang, tetapi ketika Jepang menduduki Indonesia, majalah itu diberedel pada 1942.
Baca Juga:Ini Bedanya Yahudi, Israel dan ZionisSiapa Sosok Ratu Sindang Kasih Majalengka, Nyai Ratu Rambut Kasih
Romi Zarman dalam Yudaisme di Jawa Abad ke-19 dan 20 (2013) menjelaskan, keberadaan orang-orang Yahudi khususnya di Jawa teridentifikasi sejak 1828 merujuk peraturan catatan sipil untuk orang Yahudi di Hindia Belanda. Mereka tersebar di Batavia, Semarang, dan Surabaya.
Pada dua dekade pertama Hindia Belanda atau akhir abad 19 dan awal abad 20, orang Yahudi ikut menjadi serdadu Belanda dan terlibat dalam perang Paderi di Sumatera dan Perang Diponegoro.
“Sebagian dari mereka memilih menetap di Jawa dan menjalani hidup sebagai pedagang selepas pensiun dan berakhirnya ikatan kontrak dari dinas militer,” tulis Zarman.
“Yahudi Eropa di Jawa juga berprofesi sebagai jurnalis, guru, pengacara, dan menduduki berbagai posisi strategis dalam struktur Hindia Belanda,” tambah Zarman.
Tak hanya Yahudi-Eropa yang tinggal di Jawa, tetapi ada juga Yahudi-Asia, berasal dari Arab, Persia, Bagdad, Kolkata (India), dan Suriaa. Berdasarkan konsensus pemerintah Hindia Belanda pada 1930, jumlah populasi Yahudi-Eropa di Jawa tercatat 935 jiwa. Sedangkan jumlah Yahudi-Asia sekitar 565 jiwa.
