Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada Maret 1942, jumlah orang-orang Yahudi saat itu sekitar 3.000 jiwa. Jeff Hadler, sebagaimana dikutip Romi Zarman, menulis populasi Yahudi-Eropa yang bermukim di Jawa berjumlah 1.095 jiwa pada 1930. Mereka tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Barat seperti Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, dan Bandung.
Tentara pendudukan Jepang membuat kebijakan menangkap orang-orang Yahudi setelah mereka menjalin kerjasama ekonomi dengan Jerman pada 1943. Rotem Kowner mencatat, sejak Agustus 1942, terjadi penangkapan orang-orang Yahudi yang bikin sebagian dari mereka meninggalkan Indonesia.
Segera setelah operasi penangkapan orang-orang Yahudi itu, perlakuan serupa diikuti oleh Belanda untuk mengusir orang-orang Yahudi dari Indonesia. Tercacat, dalam laporan Kongres Yahudi Sedunia yang dirilis beberapa hari setelah pengusiran orang-orang Yahudi, jumlah mereka menyusut, hanya sekitar 450 di Indonesia pada November 1957. Jumlah ini terus merosot enam tahun setelahnya, hanya tinggal 50 orang.
Baca Juga:Ini Bedanya Yahudi, Israel dan ZionisSiapa Sosok Ratu Sindang Kasih Majalengka, Nyai Ratu Rambut Kasih
Namun kini, dalam situasi negara yang lebih stabil, orang-orang Yahudi di Indonesia melalui keturunannya bisa lebih nyaman dan mendirikan komunitas di beberapa kota seperti Jakarta, Surabaya hingga Manado.
Di Manado, komunitas Yahudi hidup rukun dengan warga muslim maupun Kristen. Mereka mendirikan Sinagoga termasuk menara Menorah. Di Jakarta, mereka bisanya berkumpul di satu tempat untuk menggelar perayaan umat Yahudi di seluruh dunia. Salah satu komunitas Yahudi yang eksis itu United Indonesian Jewish Community (UIJC).
Rabi Ben, ketua komunitas, mengungkapkan, sejauh ini ada sekitar 5.000 orang keturunan Yahudi yang tersebar di Indonesia; sekitar 200 orang di antaranya bermukim di Jakarta. Mereka tak seluruhnya menganut Yudaisme. (*)
