Selanjutnya, Kuningan merupakan bagian dari Kerajaan Pajajaran dan namanya berganti menjadi Kajene yang ada dibawah kekuasaan Aria Kamuning. Kajene artinya “kuning” atau “emas”.
Dalam rangka penyebaran agama Islam, seorang ulama besar dari Caruban (Cirebon) yang benama Syekh Maulana Akbar pernah singgah di Buni Haji daerah Luragung. Ulama tersebut kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Kajene, yang pada waktu itu penduduknya masih menganut agama Hindu.
Syekh Maulana Akbar mendirikan pesantren di Sidapurna yang berkembang pesat. Karena pengikutnya bertambah banyak, maka sang ulama membuat permukiman baru dengan dasar Islam yang diberi nama Purwawinangun (artinya: mula-mula dibangun).
Syekh Maulana Akbar meninggal dan dimakamkan di Astana Gede.
Baca Juga:Bebersih Makam Ki Gede Paoman di IndramayuKasus Dugaan Penjualan Benda Cagar Budaya, Kejari Kota Cirebon Tahan 2 ASN
Dilansir dari situs resmi Kabupaten Kuningan, kabupaten tersebut di masa lampau merupakan suatu pemukiman yang mempunyai kekuatan politik penuh seperti halnya sebuah negara. Dalam cerita Parahyangan, Kerajaan Kuningan pertama kali berdiri setelah Seuweukarma dinobatkan sebagai raja yang di masa mendatang diberi gelar Rahiyang Tangkuku atau Sang Kuku yang bersemayam di Arile atau Saunggalah.
Pada masa itu, Kerajaan Kuningan bahkan sempat memperluas kekuasaannya sampai ke negeri Melayu. Meski perkembangannya sempat terhambat, Kerajaan Kuningan yang waktu itu menganut agama Hindu muncul kembali di tahun 1175. Kemudian, Kuningan masuk ke wilayah Kerajaan Sunda yang terkenal dengan nama Pajajaran.
Dalam sejarahnya, Kabupaten Kuningan juga memiliki kaitan erat dengan Kabupaten Cirebon. Pada 1470, Syeh Syarif Hidayatullah, seorang ulama besar agama Islam datang ke Cirebon. Beliau adalah murid dari Sayid Rahmat atau biasa dikenal dengan nama Sunan Ampel.
Beliau kemudian ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Cirebon adalah destinasi pertamanya. Saat berada di wilayah Cirebon Selatan, dirinya menikah dengan Ratu Lara Sumanding dan dikaruniai anak yang diberi nama Pangeran Kuningan.
Saat sudah dewasa, Pangeran Kuningan dinobatkan sebagai Adipati Kuningan, kepala pemerintahan di Kabupaten Kuningan, pada 1 September 1498. Sejak saat itu dinyatakan sebagai tanggal terbentuknya pemerintahan Kuningan. Hingga kini, 1 September dijadikan sebagai tanggal Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kuningan.
