CARUBAN NAGARI- Kabupaten Kuningan adalah salah satu kabupaten yang terletak di ujung timur batas wilayah Provinsi Jawa Barat. Kabupaten yang dijuluki ‘Kota Kuda’ ini berbatasan langsung dengan 2 kabupaten dari Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Brebes dan Kabupaten Cilacap.
Menjadi salah satu daerah tertua di Indonesia, khususnya Jawa Barat, Kabupaten Kuningan memiliki banyak cerita rakyat terkait sejarah terbentuknya. 1 September 2022, Kabupaten Kuningan merayakan hari jadinya yang ke-524.
Berdasarkan jejak sejarahnya, kira-kira 3.500 tahun sebelum masehi, di Kuningan sudah ada permukiman masyarakat yang mencapai tingkat kebudayaan yang relatif sudah maju. Hal itu berdasarkan atas hasil peninggalan yang ditemukan di wilayah Kuningan.
Baca Juga:Bebersih Makam Ki Gede Paoman di IndramayuKasus Dugaan Penjualan Benda Cagar Budaya, Kejari Kota Cirebon Tahan 2 ASN
Suatu permukiman masyarakat dimaksud, baru terwujud dalam bentuk suatu kekuatan politik seperti negara, sebagaimana dituturkan dalam cerita Parahiyangan dengan nama “Kuningan” pada 11 April 732 M.
Negara/kerajaan Kuningan tersebut terjadi sesudah penobatan Seuweukarma sebagai raja/kepala pemerintahan, yang kemudian bergelar Rahiangtang Kuku atau disebut juga Sang Kuku, yang bersemayam di Arile dan Saunggalah. Seuweukarma menganut ajaran “Dangiang Kuning” yang berpegang kepada “Sanghiang Darma” dan “Sanghiang Siksa”, yang memberikan 10 pedoman hidup, yaitu :
Tidak membunuh mahluk hidup, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berdusta, tidak mabuk, tidak makan bukan pada waktunya, tidak menonton, menari, menyanyi dan bermain musik, tidak mewah dalam berbusana, tidak tidur ditempat yang empuk, tidak menerima emas dan perak.
Seuweukarma bertahta sampai dengan usia yang cukup panjang. Setelah itu timbul persaingan antara pemerintahan Seuweukarma dengan Sanjaya, yang memegang kekuasaan daerah kerajaan Galuh sebelah timur.
Setelah Sanjaya memerintah Kuningan selama sembilan tahun, kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Rahiang Tamperan. Rahiang Tamperan mempunyai dua orang putra, yaitu Sang Manarah dan Rahiang Banga.
Setelah dewasa, Sang Manarah menjadi raja di sebelah timur. Sedangkan Rahiang Banga, menguasai daerah Kuningan, yang dahulu dibawah kekuasaan Rahiangtang Kuku.
Pada 22 Juli 1175 Masehi, Kuningan dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda dibawah Rakean Darmasiksa, putra ke-12 Rahiang Banga. Setelah bertahta selama 12 tahun di Saunggalah, keraton kemudian dipindahkan oleh Rakean Darmasiksa ke Pakuan Pajajaran.
