“Sedikit orang Inggris yang mengetahui bahwa darah Muhammad mengalir di pembuluh darah ratu. Namun semua pemimpin agama Islam bangga dengan fakta ini,” katanya, seperti dikutip United Press International.
Al-Aouni dan Brooks-Baker sama-sama menemukan kaitan antara Ratu Elizabeth II dan ningrat muslim dengan melacak garis darah ke atas hingga generasi ke-43. Tapi para genealog atau ahli silsilah memperingatkan, jika kita melacak garis nenek moyang kita lebih dari 43 generasi, secara statistik kita punya sekitar 60 ribu moyang. Dengan kata lain, kita semua sangat mungkin bersaudara.
Pelacakan itu akan tiba pada masa Bani Umayyah, kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin. Kekhalifahan yang didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan ini menguasai jazirah Arab, Afrika bagian utara, hingga Al-Andalusia (kini Spanyol).
Baca Juga:Pasangan Bucin Tak Sengaja Potret Penampakan dari Kejauhan, Hasilnya Bikin CemasKisah Ustadzah Taslimah Wafat Saat Pimpin Tahlil Rutin di Masjid Albarkah KH Abdullah Syafiie, Ini Surat dan Ayat yang Dibacanya
Raja-raja Eropa merebut kembali satu per satu wilayah Andalusia pada akhir abad ke-11. Salah satu yang terkenal adalah Raja Leon, Alfonso VI dari Kastilia. Ia jadi legenda setelah merebut Toledo pada 1085 dan mendeklarasikan dirinya sebagai Raja Toledo, Al-Andalusia, dan Galisia.
Peta Kingdom of Castile. (Wikipedia)
Alfonso menikah sekurang-kurangnya lima kali dan punya dua selir. Salah satu selir itu disebut-sebut bernama Zaida. Kerumitan mulai terjadi di sini karena sejumlah kronik menyatakan Zaida adalah muslimah yang pindah ke agama Kristen. Al-Aouni dan Brooks-Baker sama-sama merujuk pada Zaida sebagai titik sambung antara garis keturunan Raja Inggris dan garis Nabi.
Salah satu buku yang paling sering jadi rujukan mengenai Zaida adalah Chronicon Regum Legionensium karya Uskup Pelayo dari Oviedo yang terbit sekitar 1121.
“Dia (Alfonso) juga punya dua selir: Jimena Munoz dan Zaida, putri Abenabeth (Ibn Abbad), Raja Sevilla, yang dibaptis dan diberi nama Elizabeth, yang kemudian melahirkan Sancho, yang wafat dalam perang Ucles,” tulis Pelayo.
Masalahnya, Pelayo punya reputasi buruk di mata sejarawan. Misalnya, Simon Barton, dalam Conquerors, Brides, and Concubines: Interfaith Relations and Social Power in Medieval Iberia (2015), menyebutnya sebagai pemelintir cerita dan pemasok dokumen palsu.
Tapi Pelayo tidak sendirian. Kisah Zaida ini didukung catatan dari masa itu, seperti Chronicon Floriacense, yang disusun biara Fleury di Loire Valley, Prancis Tengah. Kitab itu membahas kemenangan Almoravid, dinasti Islam di Maroko, atas pasukan Leon-Kastilia dalam perang Ucles pada 1108. Kronik itu menyebutkan putra Raja Alfonso, Sancho, “Dilahirkan dari perawan mulia Saracen (Salahuddin) yang telah dibaptis.”
